UJI DAYA ALELOPATI EKSTRAK DAUN Imperata cylindrica TERHADAP PERKECAMBAHAN KACANG KEDELAI (Glycine max)
Nesti
Imroatun Nafi’ah1, Fitri Nurjannah1, Miftahul Jannah1,
Marlina Ummas Genisa2, dan Saleh Hidayat2
1Program Studi
Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Muhammadiyah Palembang
2Dosen Program
Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Muhammadiyah Palembang
ABSTRACT
Residues
is a type of plant that can inhibit the growth of other types of plants that
grow to compete with them. This term is defined as the negative effect of a
high level of plant species on germination, growth, and other types of
fertilization. One type of plant that is allelopati is kind of reeds. The
purpose of this study to determine how strong the power residues cylindricl
Imperata leaf extract on germination of soybean (Glycine max). This study used
a completely randomized design (CRD) with 4 levels of non factorial treatment
namely; A0 = control; A1 = 1:7 g / l; A2 = 1:14 g / l; A3 = 1:21 g / l extract
of leaves of Imperata cylindrica is repeated 7 times. The results showed that
the concentration of 1:7 soybean growth inhibition occurs both on plant height,
stem color and leaf yellowing, and swollen roots. While the concentration of
1:14 and 1:21 just happened inhibition can be seen from the color of the stems
and leaves are yellowing, and swollen roots.
Keywords : Residues, reeds, germination, and
soybeans
ABSTRAK
Alelopati
merupakan suatu jenis tumbuhan yang dapat menghambat pertumbuhan jenis lain
yang tumbuh bersaing dengan tumbuhan tersebut. Istilah ini diartikan sebagai
pengaruh negatif dari suatu jenis tumbuhan tingkat tinggi terhadap
perkecambahan, pertumbuhan, dan pembuahan jenis-jenis lainnya. Salah satu jenis
tumbuhan yang bersifat alelopati adalah jenis alang-alang. Tujuan penelitian
ini untuk mengetahui seberapa kuat daya alelopati ekstrak daun Imperata cylindrica terhadap perkecambahan kacang kedelai (Glycine
max).
Penelitian ini menggunakan Rancangan
Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan 4 taraf perlakuan yaitu; A0=kontrol; A1= 1:7 g/l; A2=1:14 g/l; A3=1:21 g/l ekstrak daun Imperata
cylindrica yang diulang sebanyak 7 kali. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi
1:7 terjadi penghambatan pertumbuhan kacang kedelai baik pada tinggi
tanaman, warna batang, dan daun yang menguning, serta akar yang membengkak.
Sedangkan pada konsentrasi 1:14 dan 1:21 hanya terjadi penghambatan yang dapat
dilihat dari warna batang dan daun yang menguning, serta akar yang membengkak.
Kata
kunci
: Allelopati, alang-alang, perkecambahan, dan kacang
kedelai
PENDAHULUAN
Tumbuh-tumbuhan
juga dapat bersaing antar sesamanya secara interaksi biokimiawi, yaitu salah
satu tumbuhan mengeluarkan senyawa beracun ke lingkungan sekitarnya dan dapat
mengakibatkan gangguan pertumbuhan tumbuhan yang ada di dekatnya. Interaksi
biokimiawi antara gulma dan pertanamanan antara lain menyebabkan gangguan
perkecambahan biji, kecambah jadi abnormal, pertumbuhan memanjang, akar
terhambat, perubahan susunan sel-sel akar dan lain sebagainya. Beberapa spesies
gulma menyaingi pertanaman dengan mengeluarkan senyawa beracun dari akarnya (root exudates atau lechates) atau dari pembusukan bagian vegetatifnya. Persaingan yang
timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut alelopati
dan zat kimianya disebut alelopat.
Umumnya
senyawa yang dikeluarkan adalah dari golongan fenol. Imperata cylindrica, atau lebih dikenal dengan
alang-alang merupakan gulma berdaun sempit yang tumbuh tegak dan berumpun.
Alang-alang merupakan tumbuhan pionir terutama pada lahan yang habis terbakar,
sangat toleran terhadap faktor lingkungan yang ekstrim seperti kekeringan dan
unsur hara yang miskin, namun tidak toleran terhadap genangan dan naungan.
Alang-alang dapat tumbuh pada daerah tropik dan subtropik hingga ketinggian
2700 m diatas permukaan laut.
Senyawa-senyawa
kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang,
akar, rizoma, umbi, bunga, buah, dan biji. Senyawa-senyawa alelopati dapat
dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui
:
a.
Penguapan
Senyawa alelopati ada yang
dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui
penguapan adalah Artemisia, Eucalyptus, dan Salvia. Senyawa kimianya termasuk
ke dalam golongan terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di
sekitarnya. Pengaruh saat pemberian ekstrak
bayam berduri (Amaranthus Spinosus) dan teki (Cyperus
Rotundus) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum Esculentum) dalam bentuk
uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap
akar.
b.
Eksudat akar
Banyak
terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar),
yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat.
c.
Pencucian
Sejumlah
senyawa kimia dapat tercuci dari bagian-bagian tumbuhan yang berada di atas
permukaan tanah oleh air hujan atau tetesan embun. Hasil cucian daun tumbuhan Crysanthemum sangat beracun, sehingga
tidak ada jenis tumbuhan lain yang dapat hidup di bawah naungan tumbuhan ini.
d.
Pembusukan organ tumbuhan
Setelah
tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa kimia yang mudah larut
dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagian-bagian organ yang mati akan
kehilangan permeabilitas membrannya dan dengan mudah senyawa-senyawa kimia yang
ada didalamnya dilepaskan. Beberapa jenis mulsa dapat meracuni tanaman budidaya
atau jenis-jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya. Tumbuhan yang
masih hidup dapat mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ yang berada di
atas tanah maupun yang di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan yang sudah
matipun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas
tanah maupun yang di bawah tanah. Alang-alang (Imperata cyndrica) dan teki (Cyperus
rotundus) yang masih hidup mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ di
bawah tanah, jika sudah mati baik organ yang berada di atas tanah maupun yang
di bawah tanah sama-sama dapat melepaskan senyawa alelopati. Senyawa-senyawa
alelopati dapat ditemukan pada jaringan tumbuhan (daun, batang, akar, rhizoma,
bunga, buah dan biji). Senyawa-senyawa tersebut dapat terlepas dari jaringan
tumbuhan melalui berbagai cara yaitu melalui penguapan, eksudat akar,
pencucian, dan pembusukan bagian-bagian organ yang mati.
Perkecambahan merupakan tahap pertumbuhan embrio yang dimulai setelah
penyerapan air atau imbibisi (Estiti B. Hidayat, 1999: 261 dalam Pramiadi, 2012). Perkecambahan terjadi melalui beberapa
tahapan meliputi Imbibisi air, hidrasi organ subseluler, perubahan organisasi
subseluler, embrio dan kotiledon,perubahan aktivitas fitokrom, pengaktifan
enzim, sintesa enzim, penguraian cadangan makanan, pengangkutan molekul organik
ke arah embrio, sintesa protein dan penyusun sel, aktivitas respirasi,
pembelahan sel, pemanjangan sel, sintesa atau pengaktifan bahan pertumbuhan,
diferensiasi sel, pembagian bahan metabolik baru oleh embrio, dan perubahan
derajat kebutuhan oksigen dan karbondioksida (Noggle dan Fritz,1979: 561 dalam Pramiadi, 2012). Perkecambahan biji dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal sepertri
air, suhu, komposisi udara, cahaya dan juga zat-zat toksis yang ada
dilingkungannya, termasuk pula di dalamnya zat-zat alelopati dari tumbuhan atau
sisa tumbuhan di sekitarnya
Imperata cylindrica merupakan gulma penting di
perkebunan kelapa sawit. Apabila tidak dikendalikan, alang-alang dapat
menghambat pertumbuhan kelapa sawit secara tidak langsung melalui perebutan
unsur hara dan air, terutama pada kelapa sawit belum menghasilkan (TBM).
Alang-alang juga menghasilkan senyawa alelopati berupa senyawa fenol, asam
valinik dan karbolik yang diduga dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain
(Anonim, 2011).
METODE
PENELITIAN
Penelitian
ini dilakukan selama satu minggu mulai dari tanggal 12-18 Mei 2014 di Laboratorium
Biologi Program studi Pendidikan Biologi FKIP
Universitas Muhammadiyah Palembang. Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah timbangan analitik, mangkok penggerus, botol plastik, gunting, gelas
beaker 100 ml, gelas ukur 10 ml, pipet tetes, corong, kertas saring, dan
penggaris. Sedangkan bahan yang digunakan adalah aquades, kapas, ekstrak daun alang-alang (Imperata cylindrica), dan biji tanaman
kacang kedelai (Glycine max).
Penelitian ini menggunakan Rancangan
Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan 4 taraf
perlakuan yaitu; A0=kontrol; A1= 1:7 g/l; A2=1:14g/l; A3=1:21 g/l ekstrak daun Imperata cylindrica yang diulang sebanyak 7 kali.
Pembuatan Ekstrak Daun Alang-Alang
(Imperata cylindrica)
Ekstrak daun Alang-Alang diperoleh dari daun Alang-Alang yang sudah tua ditimbang sebanyak 15 gram,
lalu dicuci bersih. Setelahnya dipotong-potong kecil dan dihaluskan dengan
mangkok penggerus. Setelah halus Sedian kemudian disaring dengan menggunakan kertas
saring sampai terpisah dari ampasnya. Untuk memperoleh ekstrak sesuai dengan konsentrasi
perlakuan, maka dilakukan pengenceran. Dimana :
A1 = Perbandingan 1:7 ( 4
gram ekstrak daun Imperata cylindrica + 28 ml air)
A2= Perbandingan 1:14 (4
gram ekstrak daun Imperata cylindrica +56 ml air)
A3= Perbandingan 1: 21( 4 gram
ekstrak daun Imperata cylindrica + 84 ml air)
Dalam
penelitian ini, daun alang-alang (Imperata
cylindrica) digunakan sebagai allelopati bagi tanaman kacang kedelai (Glycine max). Daun alang-alang (Imperata cylindrica) ini dijadikan
ekstrak dengan cara dipotong menjadi bagian kecil-kecil dengan menggunakan
gunting dan dihaluskan menggunakan mangkok penggerus. Kemudian halusan daun
alang-alang tersebut direndam dalam aquades dengan perbandingan 1:7 dimana 4 gr
daun alang-alang dalam 28 ml aquades, 1:14 dimana 4 gr daun alang-alang dalam
56 ml aquades, dan 1:21 dimana 4 gr daun alang-alang dalam 84 ml. Selanjutnya
diamkan rendaman tersebut selama 24 jam dan saring ekstrak yang diperoleh dengan
menggunakan kertas saring.
Sebelum penanaman biji kacang kedelai direndam di dalam air selama 60 menit dahulu. Kemudian
biji kacang kedelai yang sudah direndam diletakkan
ke dalam empat wadah plastik yang berisi kapas
dan masing-masing wadah plastik diisi
lima biji kacang kedelai. Tiga wadah plastik yang berisi biji kacang kedelai
diberi ekstrak allelopati dengan perbandingan konsentrasi yang berbeda-beda.
Masing-masing wadah disiram dengan 5 ml ekstrak allelopati, kemudian disiram kembali dengan 5 ml ekstrak
allelopati pada hari keempat. Sedangkan satu wadah plastik yang lainnya
digunakan sebagai kontrol yang tidak diberi perlakuan apa-apa.. Selanjutnya
perkecambahan biji-biji kacang kedelai tersebut diamati selama satu minggu.
Pada
penelitian ini, biji-biji kacang kedelai tersebut diamati setiap harinya untuk
mengetahui ukuran panjang kecambah, bagaimana keadaan akar, batang, dan
daunnya. Pengukuran ini menggunakan penggaris biasa. Sedangkan untuk pemeliharaannya benih kacang kedelai
disiram dengan air sekali dalam sehari sebanyak 5 ml.
Peubah yang
diamati
1.
Persentase Daya kecambah,
Pengamatan dilakukan pada 7 HST
Persentase
perkecambahan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
P
=
x 100 %
P
= Daya kecambah
a
= Jumlah benih yang tumbuh
b
= Jumlah keseluruhan benih
2.
Tinggi tanaman, pengamatan
dilakukan pada 3, 5, dan 7 HST
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Persentase Daya Kecambah
Hasil pengamatan terhadap daya kecambah pada 7 HST
bahwa pada perlakuan kontrol A1 (0 g/ml) rata-rata daya kecambah 40% yang merupakan daya perkecambahan tertinggi dan
tidak berbeda nyata dengan perlakuan 1:14 dan 1:21
g/l (80%), besarnya penurunan
daya kecambah sejalan dengan peningkatan konsentrasi. Pada perlakuan
konsentrasi Imperata
cylindrica tertinggi A2 (1:7 g/l) dapat menghambat perkecambahan kedelai 100%.
Hasil pengamatan terhadap daya kecambah pada 7 HST
bahwa pada perlakuan kontrol (0 g/l) rata-rata daya kecambah 100% yang
merupakan daya perkecambahan tertinggi dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan
1:7 dan 1:14 g/l (80%), besarnya penurunan daya kecambah sejalan dengan
peningkatan konsentrasi. Pada perlakuan konsentrasi Imperata cylindrica tertinggi (1:7 g/l) dapat menghambat perkecambahan kedelai
hanya sampai 20% saja. Penghambatan perkecambahan kedelai akibat pemberian esktrak
daun Imperata
cylindrica diduga karena
adanya senyawa fenol yang dapat menghambat hormon pertumbuhan sehingga
perkecambahan kedelai terhambat. Senyawa-senyawa fenol diketahui memegang
peranan penting di dalam mengontrol aktivitas IAA oksidasi pada tumbuh-tumbuhan
(Sastroutomo, 1990 dalam Hafsah, 2012).

Gambar 1. Persentase daya kecambah 7 HST akibat
pemberian ekstrak daun Imperata cylindrica
Tinggi Tanaman
Berdasarkan
hasil pengamatan di atas, pertumbuhan perkecambahan kacang kedelai mengalami
penghambatan pada morfologinya. Jika dilihat dari konsentrasi 1:7 terjadi
penghambatan morfologi,
warna, dan akar tanaman. Pada tinggi perkecambahan sangat terganggu, karena
adanya hambatan penyerapan unsur hara oleh ekstrak alang-alang yang mengandung
zat kimia yang menghambat pertumbuhan kacang kedelai. Sehingga terjadinya
penurunan persentase pertumbuhan perkecambahan kacang kedelai dibandingkan
dengan kontrolnya. Pada kontrol 3 HST,
pertumbuhan kecambah lebih rendah dari perlakuan 1:14 dan 1:21 3 HST. Namun
tinggi kecambah memperlihatkan lebih tinggi dari kontrol,
tetapi daun dan batang kacang kedelai terjadi
perubahan warna, yaitu menjadi kekuning-kuningan dan keadaan batang pun menjadi
tidak tegak. Begitupun dengan kondisi akar yang mengalami pembengkakan.

Gambar
2. Rata-rata tinggi kecambah Kedelai
akibat pemberian ekstrak daun Imperata cylindrica
Pada
konsentrasi 1:14 dan 1:21 terjadi penghambatan yang dapat dilihat dari keadaan
warna daun, batang, dan akar yang mengalami pembengkakan juga. Tetapi, pada
kedua konsentrasi ini pertumbuhan
kacang kedelai tidak mengalami penghambatan pada tinggi perkecambahan. Hal ini
disebabkan karena terjadi penurunan kadar konsentrasi ekstrak alang-alang.
Penurunan konsentrasi ekstrak alang-alang ini disebabkan karena penambahan air
yang tidak sebanding dengan penambahan ekstrak alang-alangnya.
Penghambatan
ini terjadi karena zat kimia yang terkandung pada daun alang-alang, berupa
fenol, asam valinik, dan karbolik. Senyawa-senyawa fenol diketahui memegang
peranan penting di dalam mengontrol aktivitas IAA oksidasi pada tumbuh-tumbuhan
(Sastroutomo, 1990 dalam Siti, 2012).
KESIMPULAN
1.
Alelopati merupakan
suatu tanaman yang memiliki zat kimia yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman
lain. Zat kimia yang menjadi penghambat tanaman lain adalah fenol, asam
valinik, dan karbolik.
2.
Pada konsentrasi 1:7
terjadi penghambatan pertumbuhan
morfologi batang, warna batang dan daun, serta akar
yang membengkak. Sedangkan pada konsentrasi 1:14 dan 1:21 penghambatan terjadi
pada struktur tanaman, kecuali tinggi tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2011.Allelopati.(Online).(http://ksi.fp.uns.ac.id/box/agroteknologi/SEMESTER%201/LAPORAN%20n%20TUGAS/Lap%20AgroEko/acara%205(ALELOPATI).docx.
diakses 16 Juni 2014)
Pramiadi,
Drajat, dkk.Uji
Daya Alelopati Ekstrak Daun Kleresede (Gliricidia
sp) Melalui Bioassay Perkecambahan dengan Biji Sawi (Brassica sp) dan Biji bayam (Amaranthus sp).(Online).(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Suyitno%20Aloysius,
%20Drs.%20MS./Uji%, diakses 17 Juni 2014)
Solhah,
Alfiatus.2013.Pengaruh Allelopati
Daun Lang-alang.(Online).(http://alfibelajar
biologi. blogspot.com/2013/05/pengaruh-allelopati-daun-alang-alang_6691.html,
diakses 16 Juni 2014)
Hafsah,
Siti.2012 .EFEK ALELOPATI Ageratum
conyzoides TERHADAP PERTUMBUHAN SAWI.(Online).(http://jurnal.unsyiah.ac.id/floratek/article/download/857/796,
diakses 16 Juni 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar