By : Faiz_Faris
Kenapa tak pernah kau tambatkan.
perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu.
pelabuhan tenang yang mau menerima.
kehadiran kapalmu!
perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu.
pelabuhan tenang yang mau menerima.
kehadiran kapalmu!
Kalau dulu memang pernah ada.
satu pelabuhan kecil, yang kemudian.
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?
satu pelabuhan kecil, yang kemudian.
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?
Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.
Matanya
berkaca-kaca ketika perempuan itu selesai membaca dan merenungi isi puisi itu.
Dulu sekali perempuan itu telah pernah berharap pada seorang laki-laki yang dia
yakin baik dan hanif, ada kilasan - kilasan di hatinya yang mengatakan bahwa
mungkin dialah sosok yang selama ini dicari.. dialah sosok yang tepat untuk
mengisi hari harinya kelak dalam bingkai pernikahan.
Berawal
dari sebuah pertemanan. Berdiskusi tentang segala hal. Kedekatan itu berlanjut
menjadi kedekatan yang intens, berbagi cerita , curahan hati, saling meminta
saran, saling bertelepon dan bersms, yang akhirnya segala kehadirannya
menjadikan suatu kebutuhan. Kesemuanya itu awalnya mengatasnamakan
persahabatan.
Suatu
hari salah seorang sahabatnya bertanya " Adakah persahabatan yang murni
antara laki-laki dan perempuan dewasa tanpa melibatkan hati dan perasaan
terlebih bila sudah muncul rasa simpati, kagum dan kebutuhan untuk sering
berinteraksi?" Perempuan itu tertegun dan hanya bisa menjawab "
entahlah.."
Sampai
suatu hari, laki-laki itu pergi dan menghilang... Awalnya masih memberi kabar.
Selebihnya hilang begitu saja. Dan perempuan itu masih berharap dan menunggu
untuk suatu yang tak pasti. Karena memang tidak pernah ada komitmen yang lebih
jauh diantara mereka berdua. Setiap dia mengenal sosok lelaki lainnya... Selalu
dibandingkan dengan sosok laki-laki sahabatnya itu dan tentulah sosok laki -
laki sahabatnya itu yang selalu lebih unggul dibanding yang lain. Dan perempuan
itu tidak pernah lagi membuka hatinya untuk yang lain. Sampai suatu hari,..
Perempuan
itu menyadari kesia-siaan yang dibuatnya. Ia berharap ke sesuatu yang tak pasti
hanyalah akan membawa luka dihati... Bukankah banyak hal yang bermanfaat yang
bisa dia lakukan untuk mengisi hidupnya kini.... Air mata nya jatuh perlahan
dalam sujud panjangnya dikegelapan malam... Dia berjanji untuk tidak mengisi
hari - harinya dengan kesia-siaan.
"Lalu
bagaimana dengan sosok laki - laki itu ?? "Perlahan saya bertanya padanya.
"Saya
tidak akan menyalahkan siapa-siapa, yang salah hanyalah persepsi dan harapan
yang terlalu berlebihan dari kedekatan itu, dan proses interaksi yang terlalu
dekat sehingga timbul gejolak dihati.... Biarlah hal itu menjadi proses
pembelajaran dan pendewasaan bagi saya untuk lebih hati - hati dalam menata
hati dan melabuhkan hati," ujarnya dengan diplomatis. Hingga saya
menemukan perempuan itu kini benar - benar menepati janjinya.
Dunia
perempuan itu kini adalah dunia penuh cinta dengan warna-warna jingga,
tawa-tawa pelangi , pijar bintang dimata anak anak kecil yang menjadi anak
didiknya.... Cinta yang dialiri ketulusan tanpa pamrih dari sahabat-sahabat di
komunitasnya yang menjadikan perempuan itu produktif dan bisa menghasilkan
karya...cinta yang tidak pernah kenal surut dari kedua orang tua dan
keluarganya... Dan yang paling hakiki adalah cinta nya pada Illahi yang selalu
mengisi relung-relung hati..tempatnya bermunajat disaat suka dan duka...
Indahnya hidup dikelilingi dengan cinta yang pasti.
Adakalanya
kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang akan memberi sejuta makna bagi isi
jiwa. Sehingga.... saat seseorang itu pun hilang begitu saja... Masih ada
setangkup harapan agar dia kembali....Walaupun ada kata-katanya yang
menyakitkan hati.... akan selalu ada beribu kata maaf untuknya.... Masih ada
beribu penantian walau tak pasti... Masih ada segumpal keyakinan bahwa dialah
jodoh yang dicari sehingga menutup pintu hati dan sanubari untuk yang lain.
Sementara dia yang jauh disana mungkin sama sekali tak pernah memikirkannya.
Haruskah mengorbankan diri demi hal yang sia-sia??
Masih
ada sejuta asa.... Masih ada sejuta makna.....Masih ada pijar bintang dan mentari
yang akan selalu bercahaya dilubuk jiwa dengan menjadi bermakna dan bermanfaat
bagi sesama....
"Lalu...
bagaimana dengan cinta yang dulu pernah ada?? '' tanya saya suatu hari.
Perempuan
itu berujar, " Biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya... disaat yang
tepat... dengan seseorang yang tepat.... dan pilihan yang tepat......hanya dari
Allah Swt. disaat dihalalkannya dua manusia untuk bersatu dalam ikatatan
pernikahan yang barokah.."
Semoga
saja akan demikian adanya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar