Rabu, 19 Maret 2014

Laporan Praktikum Mikrobiologi Terapan 1



ABSTRAK
Nurjannah, Fitri. 2013. Laporan Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Bakteri Eschericia coli, Salmonella typhosa, dan Staphylococcus aureus. Program Studi Pendidikan Biologi. Program Sarjana (S1), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Palembang, Dosen Pengasuh Susi Dewiyeti, S.Si., M.Si.
Kata Kunci : E. coli, Salmonella typhosa, dan Staphylococcus aureus, faktor pertumbuhan bakteri E. coli, Salmonella typhosa, dan Staphylococcus aureus.

E. coli dan Salmonella typhosa adalah salah satu jenis bakteri gram negative. Kedua bakteri ini berbahaya bagi tubuh manusia jika berada di bagian-bagian tertentu. Seperti E. coli dapat menyebabkan diare dan Salmonella typhosa dapat menyebabkan penyakit typus. Sedangkan bakteri Staphylococcus aureus merupakan salah satu jenis bakteri gram positif. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit bagi tubuh manusia, yaitu khususnya pada bagianp kulit.

Pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap pertumbuhan bakteri E. coli, Salmonella typhosa, dan Staphylococcus aureus. Dari hasil pengamatan yang dilakukan, diperolehlah hasil bahwa faktor lingkungan mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Bakteri tidak dapat hidup di tempat yang kadar pH nya terlalu asam ataupun terlalu basa. Namun ada beberapa bakteri yang mampu hidup di tempat-tempat tersebut. Begitupun juga dengan suhu, bakteri tidak dapat hidup di suhu yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah, hanya bakteri-bakteri tertentu saja yang dapat hidup di daerah-daerah ekstrim tersebut. Dari hasil pengamatan  ini dapat disimpulkan, bahwa pH dan suhu sangat mempengaruhi pertumbuhan bakteri E. coli, Salmonella typhosa, dan Staphylococcus aureus.










LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI TERAPAN
A.    PRAKTIKUM KE          : 1
B.     JUDUL                            : PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN
TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Eschericia coli, Salmonella typhosa, Staphylococcus aureus
C.     TUJUAN                         : Untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan
Terhadap Pertumbuhan bakteri Eschericia coli, Salmonella typhosa, Staphylococcus aureus
D.    DASAR TEORI              :
Bakteri adalah organisme prokariotik dimana selnya tidak memiliki selaput inti. Jadi, Eschericia coli, Salmonella typhosa, dan, Staphylococcus aureus termasuk organism prokariotik.
1.         Bakteri Escherichia coli
Eschericia coli dijuluki sebagai kelinci percobaan biologi molekular. Eschericia coli merupakan salah satu spesies bakteri  jenis gram negatif. Bakteri ini termasuk simbion yang tak berbahaya dalam usus manusia, namun galur-galur patogenik yang menyebabkan diare dengan perdarahan telah mucul (Campbell dan Reece, 2008:135).
Bakteri E. coli berbentuk batang dari pendek sampai kokus, saling terlepas antara satu dengan yang lainnya tetapi ada juga yang bergandeng dua-dua (diplobasil) dan ada juga yang bergandeng seperti rantai pendek, tidak membentuk spora maupun kapsula, berdiameter ± 1,1 – 1,5 x 2,0 – 6,0 µm, dapat bertahan hidup di medium sederhana dan memfermentasikan laktosa menghasilkan asam dan gas, kandungan G+C DNA ialah 50 sampai 51 mol (Pelczar dan Chan, 1988:949). Suhu yang baik untuk pertumbuhan bakteri ini adalah antara 8°C-46°C, tetapi suhu optimumnya adalah 37°C. Oleh karena itu, bakteri tersebut dapat hidup pada tubuh manusia dan vertebrata lainnya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhioYVOEJUPO7UjhgKp5l4s9-uyj_DLkQ2X0rtaI-FwohX_B1H9c2VKehnmPxPghADq607gwDwRRIcP1Be5DLDnX-CP8IkTHAIqlt5dEkfLBlKseTarJYqgctfLO3CkcT728U6qxeM1Q9k/s320/EscherichiaColi_NIAID.jpg
Gambar 1 Escherichia coli
(Sumber: Anonim, 2013:1)


Menurut Pelczar dan Chan (1988:809-810),  mengatakan Escherichia coli merupakan bagian dari mikrobiota normal saluran pencernaan. Escherichia coli dipindahsebarkan dengan kegiatan tangan ke mulut atau dengan pemindahan pasif lewat makanan atau minuman. Morfologi dan ciri-ciri pembeda Escherichia coli yaitu:
a.         Merupakan batang gram negative
b.         Terdapat tunggal, berpasangan, dan dalam rantai pendek
c.         Biasanya tidak berkapsul
d.        Tidak berspora
e.         Motil atau tidak motil, peritrikus
f.          Aerobik, anaerobik fakultatif
g.         Penghuni normal usus, seringkali menyebabkan infeksi. 
Escherichia coli dalam usus besar bersifat patogen apabila melebihi dari jumlah normalnya. Galur-galur tertentu mampu menyebabkan peradangan selaput perut dan usus (gastroenteritis) (Pelczar dan Chan, 1988:809-810). Bakteri ini menjadi patogen yang berbahaya bila hidup di luar usus seperti pada saluran kemih, yang dapat mengakibatkan peradangan selaput lendir (sistitis) (Pelczar dan Chan, 1988:545).
Escherichia coli dapat dipindahsebarkan melalui air yang tercemar tinja atau air seni orang yang menderita infeksi pencernaan, sehingga dapat menular pada orang lain. Infeksi yang timbul pada pencernaan akibat dari serangan bakteri Escherichia coli pada dinding usus menimbulkan gerakan larutan dalam jumlah besar dan merusak kesetimbangan elektrolit dalam membran mucus. Hal ini dapat menyebabkan penyerapan air pada dinding usus berkurang dan terjadi diare .(Pelczar dan Chan, 1988:810).
 Menurut Emingko (2011:1), E. coli memiliki manfaat dan bahaya bagi kehidupan manusia. Adapun manfaatnya adalah bakteri E. coli yang berada di dalam usus besar manusia berfungi untuk menekan pertumbuhan bakteri jahat, dia juga membantu dalam proses pencernaan termasuk pembusukan sisa-sisa makanan dalam usus besar. Fungsi utama yang lain dari E. coli adalah membantu memproduksi vitamin K melalui proses pembusukan sisa makan. Vitamin K berfungsi untuk pembekuan darah misalkan saat terjadi perdarahan seperti pada luka/mimisan vitamin K bisa membantu menghentikannya. Sedangkan bahayanya adalah dalam jumlah yang berlebihan bakteri E. coli dapat mengakibatkan diare, dan bila bakteri ini menjalar ke sistem/organ tubuh yang lain dapat menginfeksi. Seperti pada saluran kencing, jika bakteri E. coli sampai masuk ke saluran kencing dapat mengakibatkan infeksi saluran kemih/kencing (ISK), umumnya terjadi pada perilaku sek yang salah (anal sek) juga resiko tinggi bagi wanita karena posisi anus dan saluran kencingnya cukup dekat sehingga kemungkinan bakteri menyebrang cukup besar tepatnya ketika membersihkan anus setelah BAB [Buang Air Besar] untuk itu arahkan air juga tangan ke arah belakang saat membersihkan anus jangan ke depan agar tidak mengkontaminasi saluran kencing.
Menurut Ruth (2009:13) faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri E. coli ada dua, yaitu faktor biotik yaitu makhluk hidup dan faktor abiotik yaitu faktor alam dan kimia.
a.    Faktor alam
1)        Temperatur
Daya tahan terhadap temperatur tidak sama bagi tiap tiap species. Ada species yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam medium cair, sebaliknya ada juga species yang tahan hidup setelah dipanasi dengan uap 100°C bahkan lebih (bakteri yang membentuk spora). E. coli tumbuh baik pada temperatur antara 8°C - 46°C dan temperatur optimum 37°C. Bakteri yang dipelihara di bawah temperatur minimum atau sedikit di atas temperatur maksimum, tidak akan segera mati melainkan berada di dalam keadaan tidur atau dormansi.



2)        Kelembapan
Sebenarnya bakteri menyenangi keadaan basah bahkan hidup di dalam air. Tetapi di dalam air yang tertutup, bakteri tidak dapat hidup subur karena udara yang dibutuhkan tidak mencukupi.
3)        Perubahan nilai osmosis
Medium yang paling cocok bagi kehidupan bakteri ialah medium yang isotonik terhadap isi sel bakteri. Jika bakteri ditempatkan di dalam suatu larutan yang hipertonik maka akan mengalami plasmolisis terhadap isi sel bakteri. Sebaliknya bakteri yang ditempatkan di dalam larutan hipotonik (air suling) maka bakteri akan mengalami plasmoptisis yaitu pecahnya sel bakteri karena air akan masuk ke dalam sel bakteri.
4)        Sinar
Kebanyakkan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. Sinar yang lebih pendek gelombangnya yaitu gelombang antara 240mu - 300mu dapat membahayakan kehidupan bakteri, demikian juga penyinaran pada jarak dekat, sinar X, sinar radium dan sinar ultra ungu dapat membunuh bakteri.
5)        Mekanik
Pengaruh tekanan udara terhadap kehidupan bakteri dapat diketahui dari hasil percobaan yaitu untuk menghentikan pembiakan bakteri diperlukan tekanan sebanyak 600 atm, untuk mematikannya diperlukan tekanan sebanyak 6000 atm sedang untuk membunuh spora diperlukan 12.000 atm. Untuk memecahkan sel bakteri diperlukan pengguncangan 9000 kali per detik. Proses ini sering digunakan untuk melepaskan enzim-enzim dan endotoksin.
b.    Faktor kimia
1)        Oksidasi
Zat-zat seperti H2O2, Na2BO4, KMnO4 mudah sekali melepaskan O2 untuk menimbulkan oksidasi. Klor di dalam air menyebabkan bebasnya O2 sehingga zat ini merupakan desinfektan. Hubungan klor dengan protoplasmapun dapat menimbulkan oksidasi.
2)        Koagulasi
Banyak zat seperti air raksa, perak, tembaga dan zat-zat organik seperti fenol, formardehida, etanol menyebabkan penggum-palan protein yang merupakan konstituen dari protoplasma. Protein yang telah menggumpal adalah protein yang mengalami denaturasi dan di dalam keadaan yang demikian itu protein tidak berfungsi lagi.
3)        Depresi dan ketegangan permukaan
Sabun dapat mengurangi ketegangan permukaan, oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Empedu juga mempunyai khasiat seperti sabun, hanya bakteri yang hidup di dalan usus mempunyai daya tahan terhadap empedu. Pada umumnya diketahui bahwa bakteri gram negatif lebih tahan terhadap pengurangan ketegangan permukaan dari pada bakteri gram positif.
2.         Bakteri Staphylococcus aureus
 Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif pada pengecatan gram terlihat bentuk kokus ukurannya 0.8-1.0 mm dengan diameter 0.7-0.9 mikron. Bakteri ini tumbuh secara anaerbik fakultatif dengan membentuk kumpulan sel-sel yang bentuknya seperti buah anggur, tidak bergerak ditemukan satu-satu, berpasangan berantai pendek atau bergerombol menyerupai buah anggur (Anonim:2010:1).
Staphylococcus aureus tumbuh dengan baik pada berbagai media bakteriologi dibawah suasana aerobik atau mikroaerofilik. Koloni akan tumbuh dengan cepat pada temperatur 37°C namun pembentukan pigmen terbaik adalah pada temperatur kamar (20°C-35°C) koloni pada media padat akan berbentuk bulat, lembut, dan mengkilat. Pada pembenihan cair menyebabkan kekeruhan yang merata tidak membentuk pigmen. Pada nutrien agar setelah diinkubasi selama 24 jam koloni berpigmen kuning emas, ukuran 2-4mm, bulat, cembung, tepi rata(Anonim:2010:1).
Gambar 2 Taphylococcus aureus
(Sumber: Puji,2012,1)

Klasifikasi Staphylococcus aureus
Kingdom       : Monera
Divisi             : Firmicutes
Class              : Bacilli
Order             : Bacillales
Family           : Staphylococcaceae
Genus            : Staphylococcus
Species          : Stapylococcus aureus


Menurut Irfa (2012:1), bakteri  Staphilococcus aureus memiliki ciri-ciri sbb:
a.         Berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur.
b.         Jika ditumbuhkan pada media agar, Staphylococcus memiliki diameter 0,5-1,0 mm dengan koloni berwarna kuning.
c.         Tumbuh dengan cepat pada temperatur 20 - 35ºC dengan koloni pada media padat.
d.        Staphylococcus tumbuh dengan baik pada berbagai media bakteriologi di bawah suasana aerobik atau mikroaerofilik.
Menurut Puji (2012:2), salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah suhu. Suhu optimum untuk pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 35°C– 37°C dengan suhu minimum 6,7°C dan suhu maksimum 45,4°C. Bakteri ini dapat tumbuh pada pH 4,0 – 9,8 dengan pH optimum 7,0 – 7,5. Pertumbuhan pada pH mendekati 9,8 hanya mungkin bila substratnya mempunyai komposisi yang baik untuk pertumbuhannya. Bakteri ini membutuhkan asam nikotinat untuk tumbuh dan akan distimulir pertumbuhannya dengan adanya thiamin. Pada keadaan anaerobik, bakteri ini juga membutuhkan urasil. Untuk pertumbuhan optimum diperlukan sebelas asam amino, yaitu valin, leusin, threonin, phenilalanin, tirosin, sistein, metionin, lisin, prolin, histidin dan arginin. Bakteri ini tidak dapat tumbuh pada media sintetik yang tidak mengandung asam amino atau protein. Adapun faktor lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1          Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri
No.
Faktor Pengaruh
Pertumbuhan
Optimum
Kisaran
1
Suhu
37°C
4-48°C
2
pH
6.0-7.0
4.0-9.8
3
Atmosfer
Aerobik
Anaerobik hingga aerobic
4
Natrium klorida
0.5-0.4%
0-20%
                (Sumber: Anonim,2011,2)

Menurut Tjahjadi (2007:262), bakteri Staphylococcus aureus termasuk bakteri patogen yang menghasilkan eksotoksin. Eksotoksin merupakan protein bakteri yang diproduksi dan dikeluarkan ke lingkungannya selama pertumbuhan bakteri patogen. Berdasarkan struktur dan aktivitasnya, eksotoksin dibedakan menjadi eksotoksin A-B, eksotoksin perusak membran, dan eksotoksin superantigen. Dinamakan eksitoksin A-B karena bagian B eksotoksin (terpisah dari bagian A) yang mengikat reseptornya, melakukan aktivitas enzimatik yang dapat menghancurkan sel inang. Dinamakan eksotoksin perusak membran karena membuat lubang pada sel inang, sehingga sitoplasma sel inang keluar dan air masuk ke dalam sel inang. Akibatnya sel inang pecah. Dinamakan eksotoksin superantigen karena membuat suatu jembatan MHC II dengan sel T. Staphylococcus aureus ini termasuk dalam penghasil eksotoksin superantigen. Target sel inangnya yaitu sel T dan Makrofag dengan cara mempersulit produksi sitokin oleh sel T sehingga menyebabkan demam dan sindrom shock.
3.         Bakteri Salmonella typhosa
Salmonella adalah suatu genus bacteria enterobakteria gram negatif berbentuk tongkat yang mengakibatkan penyakit paratifus, tifus, dan penyakit foodborne. Salmonella  merupakan kuman gram negatif, tidak berspora dan panjangnya bervariasi. Kebanyakan species bergerak dengan flagel peritrih. Salmonella tumbuh cepat pada pembenihan biasa tetapi tidak meragikan sukrosa dan laktosa. Kuman ini merupakan asam dan beberapa gas dari glukosa dan manosa. Kuman ini bisa hidup dalam air yang dibekukan dengan masa yang lama. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia tertentu misalnya hijau brilian, natrium tetrationat, dan natrium dioksikholat. Senyawa ini menghambat kuman koliform dan karena itu bermanfaat untuk isolasi salmonella dari tinja (Mothatha: 2011:1).
Gambar 3 Salmonella typhosa
(Sumber: Anonim,2012:1)
Klasifikasi Salmonella typhosa
Kingdom       : Bakteria
Phylum          : Proteobakteria
Classis           : Gamma proteobakteria
Ordo             : Enterobakteriales
Familia          : Enterobakteriakceae
Genus            : Salmonella
Species          : Salmonella typosa

Salmonella thyphosa salah satu spesies dari genus Salmonella. Salmonella thyposa, basil gram negatif  yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu antigen O (somatik, terdiri dari zat komplekliopolisakarida, antigen H(flagella), antigen V1 dan protein membrane hialin.
Bakteri ini berbentuk batang, gram negatif berukuran 2 sampai 4 x 0,6 bergerak kecuali Salmonella  galinarum dan Salmonella pullorum. Tidak berspora mempunyai fibria (Mothatha, 2011:6).
Salmonella typhosa bersifat aerob dan aerob fakultatif, suhu optimum untuk pertumbuhannya 37oC dan pH optimum 6 sampai 8 dan dapat dibunuh oleh pemanasan pada suhu 60oC selama 15-20 menit, pasteurisasi, pendidihan serta kionisasi (Mothatha, 2011:1).
Salmonella typhosa ini termasuk bakteri gram negatif dan berkembang biak dengan cara konjugasi. Pada umumnya, bakteri gram negatif dapat berkonjugasi dengan banyak macam bakteri gram negatif dan dapat memindahkan DNA plasmid. Akan tetapi efisiensi kawin interspesifik dan intergenik bermacam-macam. Pada tabel dibawah ini memperlihatkan kisaran yang diamati bila F-lac dipindahkan dari sel satu genus bakteri enteric gram negatif ke sel yang lain. Galur F+ dan F- telah dibuat pada banyak bakteri golongan enteric dengan perpindahan plasmid yang sesuai dari E.coli K12. Dalam beberapa hal plasmid ini menjdai penggabungan dengan kromosom penerima, yang membentuk sel donor Hfr; Hfr seperti itu telah dihasilkan pada Salmonella, Yeresinia pseudotuberculosis, dan Erwinia amylovora (Roger, Edward, dan John, 1986:179).
Tabel 2     Efisiensi konjugasi diantara genera bakteri Gram-negatif berbeda

Donor F-lac                        Penerima                               Frequensi Perpindahan F-lac
Salmonella typhosa         Escherichia coli                  10-4 – 10-5
Salmonella typhosa         Proteus mirabilis                 10-4 – 10-5
Salmonella typhosa         Serratia marcescens           10-7 – 10-8
Salmonella typhosa         Vibrio comma                       10-5 – 10-6
(Sumber:Roger, 1986,180)

E.     PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.         WAKTU DAN TEMPAT
a.         Waktu    :  1) Praktik: Kamis 10 Oktober 2013 jam 09.00-11.00 WIB
   2) Pengamatan : Jumat 11 Oktober 2013 jam 11.00 WIB
b.        Tempat   : Laboratorium Biologi Program Studi Pendidikan Biologi
               FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang
2.         ALAT DAN BAHAN
a.         Alat        : Tabung reaksi, pinset, Bunsen, rak tabung reaksi, jarum
ose, pipet  tetes, autoclave,inkubator, kertas HVS, beaker glass, gelas ukur
b.      Bahan     : NaOH, suspense bakteri Eschericia coli, Salmonella
typhosa, Staphylococcus aureus, kapas, spritus, tissue, alkohol 70%, asam cuka, Aquadest, air panas, es batu, kertas pH, kertas label
3.         CARA KERJA
a.    Perlakuan pH (Asam Cuka dan NaOH)
1)   Ukur terlebih dahulu pH aquadest steril, asam cuka, dan NaOH. Hasil pengukuran dicatat
2)   Siapkan 3 (tiga) buah tabung reaksi, masing-masing tabung reaksi dimasukkan 10ml asam cuka, NaOH, dan aquadest steril secara aseptis
3)   Pada tabung reaksi yang telah berisi asam cuka, NaOH, dan aquadest steril, dimasukkan 2-3 tetes suspense bakteri secara aseptis
4)   Sumbat mulut tabung reaksi dengan kapas kemudian bungkus dengan kertas putih
5)   Inkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37°C dalam inkubator
6)   Setelah masa inkubasi amati perubahan yang terjadi pada tabung reaksi (warna/keruh)
b.    Perlakuan Suhu (Es Batu dan Air Panas)
1)   Siapkan 2 (dua) buah tabung reaksi, masukkan pecahan es batu dengan pinset sampai setengah panjang tabung reaksi dan 10ml air panas ke dalam masing-masing tabung reaksi secara aseptis
2)   Ukur suhu kedua tabung reaksi yang berisikan es batu dan air panas. Catat
3)   Pada tabung reaksi yang beirisikan es batu dan air panas, masukkan 2-3 tetes suspense bakteri secara aseptis
4)   Sumbat mulut tabung dengan kapas kemudian bungkus dengan kertas putih
5)   Inkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37°C dalam inkubator
6)   Setelah masa inkubasi amati perubahan yang terjadi pada tabung reaksi (warna/keruh)





F.      HASIL DAN PEMBAHASAN
1.         HASIL PRAKTIKUM
Tabel 1            Pengaruh Faktor pH dan Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Eschericia coli
No.       Perlakuan                                                                                              Warna
1           Aquadest steri + bakteri E.coli                                                          Keruh
2           NaOH + bakteri E.coli                                                                        Jernih
3           Asam cuka + bakteri E.coli                                                               Keruh
4           Es batu + bakteri E.coli                                                                      Keruh
5           Air panas + bakteri E.coli                                                                  Jernih
Tabel 2          Pengaruh Faktor pH dan Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus
No.       Perlakuan                                                                                              Warna
1           Aquadest steril + bakteri Staphylococcus aureus                         Keruh
2           NaOH + bakteri Staphylococcus aureus                                        Keruh
3           Asam cuka +        bakteri Staphylococcus aureus                        Keruh
4           Es batu + bakteri Staphylococcus aureus                                      Keruh
5           Air panas + bakteri Staphylococcus aureus                                   Keruh
Tabel 3            Pengaruh Faktor pH dan Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhosa
No.       Perlakuan                                                                                              Warna
1           Aquadest steril + bakteri Salmonella typhosa                                               Keruh
2           NaOH + bakteri Salmonella typhosa                                              Keruh
3           Asam cuka + bakteri Salmonella typhosa                                     Keruh
4           Es batu + bakteri Salmonella typhosa                                            Keruh
5           Air panas + bakteri Salmonella typhosa                                         Jernih

2.         PEMBAHASAN
a.         Pengaruh Faktor pH dan Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Eschericia coli
E. coli adalah bakteri bakteri Eschericia coli adalah salah satu jenis bakteri gram negatif yang bersifat fermentatif. Eschericia  coli hidup di dinding usus besar manusia dan berfungsi sebagai pengurai sisa-sisa makanan yang tidak terserap dalam sistem pencernaan manusia. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri E. coli ini salah satunya adalah suhu dan pH (Anonim, 2013:1) .
Dari praktikum yang telah dilakukan, digunakan dua perlakuan, yaitu perlakuan suhu dan perlakuan pH. Pada perlakuan suhu, digunakan media es batu dan air panas. Suhu es batunya 2°C. Es batu sebagai media cairnya, kemudian es batu akan dicampurkan dengan suspensi bakteri E. coli dan diinkubasi dengan suhu 37°C selama 24 jam. Dari hasil pengamatan pada tabel 1, hasil dari suspensi bakteri dan media air es yang telah diinkubasi terjadi perubahan warna pada media tersebut. Media menjadi keruh atau terdapat benda yang sangat kecil melayang-layang pada media tersebut atau yang disebut mikroorganisme. Ini menandakan bahwa bakteri ini dapat tumbuh pada suhu yang sangat rendah atupun tidak mati, hanya saja mengalami dormancy. Sedangkan dari hasil pengamatan dengan media air panas dengan suhu 93°C  yang telah dicampur suspensi bakteri dan diinkubasi dengan suhu 37°C  selama 24 jam tidak terjadi perubahan warnaatau warna media tetap jernih, menandakan bahwa tidak adanya pertumbuhan bakteri di dalamnya. Menurut Ruth (2009:3)  E. coli tumbuh baik pada temperatur antara 8° - 46°C dan temperatur optimum 37°C. Bakteri yang dipelihara di bawah temperatur minimum atau sedikit di atas temperatur maksimum, tidak akan segera mati melainkan berada di dalam keadaan tidur atau dormanci.
Sedangkan pada perlakuan pH digunakan media aquadest steril dengan pH 7, NaOH dengan pH13, dan asam cuka dengan pH 2. Dari hasil pengamatan pada aquadest steril dengan pH 7 yang dicampur dengan suspensi bakteri E. coli yang kemudian diinkubasi dengan suhu 37°C selama 24 jam terjadi perubahan warna atau warna media berubah menjadi keruh (terdapat benda yang sangat kecil yang melayang-layang pada media tersebut). Hal ini menandakan terjadi pertumbuhan bakteri pada media aquadest steril. Sesuai pernyataan berikut dimana pH optimum untuk pertumbuhan Escherichia coli adalah 6,5-7,5 (Agus, 2010:5).  Dari hasil pengamatan melalui  perlakuan pH pada media NaOH dengan pH 13 yang dicampur dengan suspensi bakteri E.coli dan kemudian diinkubasi dengan suhu 37°C selama 24 jam, yang terjadi pada media tersebut tidak ada perubahan warna pada media NaOH. Ini dikarenakan pH terlalu basa untuk pertumbuhan bakteri. Menurut Anonim 2 (2011:4) untuk pertumbuhannya minimal pH adalah 4 dan pH maksimal sebesar 9. Escherichia coli  banyak memproduksi asam pada médium glukosa dan juga memproduksi indol. Dan pada perlakuan pH yang terakhir adalah pada asam cuka dengan pH 2 yang dicampur suspensi bakteri dan diinkubasi dengan suhu 37°C selama 24 jam, terjadi  perubahan warna pada media cair atau warna media akan  nampak keruh (terdapat benda yang sangat kecil melayang di dalam media tersebut). Untuk pertumbuhanbakteri ini minimal pH adalah 4 dan pH maksimal sebesar 9 Anonim 2 (2011:4). Sedangkan pada pH asam cuka adalah 2. Ini menandakan bahwa E. coli dapat hidup pada pH yang asam, hanya saja pertumbuhannya sedikit terhambat ataupun tidak optimum.


b.        Pengaruh Faktor pH dan Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus
Dari hasil pengamatan pada tabel 2, setelah bakteri Staphylococcus aureus diinkubasi selama 24 jam dengan media cair seperti aquadest steril, asam cuka, dan NaOH dengan suhu 37°C pada inkubator, jelas sekali terlihat pada kelima media tersebut adanya pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Dengan adanya perubahan warna media yang menjadi keruh atau  terdapatnya seperti benda kecil yang melayang-layang di media tersebut yang merupakan mikroorganisme. Pada masing-masing media tersebut banyaknya benda yang sangat kecil yang melayang (mikroorganisme)  berbeda-beda. Ada yang banyak dan ada yang sedikit. Tapi yang jelas, pada media tersebut terjadi perubahan warna yang menjadi keruh dibanding  saat media tersebut belum dicampur suspensi bakteri dan diinkubasi. Menurut Anonim (2010:1) ini dikarenakan koloni akan tumbuh dengan cepat pada temperatur 37°C namun pembentukan pigmen terbaik adalah pada temperatur kamar (20°C-35°C) koloni pada media padat akan berbentuk bulat, lembut, dan mengkilat. Pada pembenihan cair menyebabkan kekeruhan yang merata tidak membentuk pigmen.
Jika dilihat dari perlakuan pH, pada media aquadest steril dengan pH 7 yang dicampur suspensi bakteri Staphylococcus aureus dan diinkubasi dengan suhu 37°C selama 24 jam, disana nampak terlihat seperti ada benda yang sangat kecil melayang pada media aquadest tersebut. Benda yang sangat kecil itu adalah mikroorganisme yang menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri pada media tersebut. Hasil ini bisa dibenarkan karenasesuai dengan pernyataan-pernyataan bahwa bakteri Staphylococcus aureus dapat tumbuh baik di suhu optimum 37°C dan pH optimum 7. Menurut Anonim 1 (2011:2),  pada umumnya, S. aureus tumbuh pada kisaran suhu 7-48.5°C dengan suhu optimum pertumbuhan 30-37°C. Kisaran pH pertumbuhan antara 4,5 hingga 9,3, dengan pH optimum 7,0-7,5. Sedangkan pada media asam cuka yang memiliki pH 2 yang dicampur suspensi bakteri Staphylococcus aureus dan diinkubasi dengan suhu 37°C selama 24 jam juga mengalami pertumbuhan bakteri didalamnya yang ditandai dengan adanya benda yang sangat kecil yang melayang-layang di media cair tersebut. Dari hasil pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa bakteri Staphylococcus aureus dapat tumbuh pada pH yang sangat asam yaitu 2. dan pada perlakuan pH yang terakhir adalah pada media cair  NaOH dengan pH 13 atau pH yang sangat basa. Seharusnya pada pH yang sangat basa ini bakteri tidak dapat tumbuh, seperti pada pernyataan yang telah ditemukan. Menurut Puji (2012:1), bakteri ini dapat tumbuh pada pH 4,0 – 9,8 dengan pH optimum 7,0 – 7,5. Pertumbuhan pada pH mendekati 9,8 hanya mungkin bila substratnya mempunyai komposisi yang baik untuk pertumbuhannya. Tapi dari hasil pengamatan yang telah dilakukan ditemukannya benda yang melayang-layang di media cair (NaOH) tersebut.
Jika dari perlakuan suhu, dilihat dari pengamatan pada air panas dengan suhu 90°C yang dicampur suspensi bakteri S.aureus, nampak terlihat jelas bahwa pada media tersebut terdapat pertumbuhan bakteri. Karena pada media tersebut terlihat jelas ada mikroorganisme yang bergerombol yang melayang-layang.  Sedangkan pada perlakuan suhu dengan menggunakan air es dengan suhu 2°C nampak terlihat juga ada benda yang sangat kecil melayang-layang pada media tersebut. Namun tidak sebanyak yang ada pada media air panas. Bakteri ini dapat tumbuh dengan suhu  awal  air panas yang mencapai 90°C dan air dingin 2°C dikarenakan bakteri telah disimpan  dengan menggunakan inkubator dengan suhu 37°C yang merupakan suhu optimum dimana bakteri dapat tumbuh baik. Menurut Anonim (2009:1), inkubator adalah alat untuk menginkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang terkontrol. Alat ini dilengkapi dengan pengatur suhu dan pengatur waktu. Jadi, dengan inkubator ini suhu bakteri dapat terkontrol agar bakteri dapat tumbuh baik.
c.         Pengaruh Faktor pH dan Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhosa
Salmonella typhosa bersifat aerob dan aerob fakultatif, suhu optimum untuk pertumbuhannya 37oC dan pH optimum 6 sampai 8 dan dapat dibunuh oleh pemanasan pada suhu 60oC selama 15-20 menit, pasteurisasi, pendidihan serta kionisasi. (Mothatha, 2011:1).
Pada bakteri ini juga dilakukan dua perlakuan untuk mengetahui pertumbuhannya, yaitu perlakuan pH dan suhu. Pada perlakuan pH, asam cuka dengan pH 2, aquadest steril dengan pH 7, dan NaOH dengan pH 13. Dari hasil pengamatan dengan menggunakan media cair aquadest steril yang memiliki pH 7 yang telah dicampur dengan suspensi bakteri S. typhosa dan diinkubasi selama 24 jam, terlihat benda yang sangat kecil (mikroorganisme) melayang-layang di media tersebut. Menandakan bahwa terjadi pertumbuhan bakteri S. typhosa di pH 7 yang merupakan pH optimum dari rata-rata bakteri yang ada. Sedangkan  pada perlakun pH dengan menggunakan media NaOH yang dicampur suspensi bakteri S. typhosa, yang diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C terjadi perubahan warna pada media cairnya. Warna media menjadi keruh (terdapat benda yang sangat kecil melayang pada media cair tersebut). Ini menandakan bahwa bakteri ini dapat tumbuh di pH yang basa. Sedangkan dari hasil pengamatan dengan menggunakan asam cuka pH 2 dengan perlakuan yang sama seperti sebelum-sebelumnya, disana terlihat ada benda yang sangat kecil (mikroorganisme) yang melayang-layang . Seharusnya, menurut penelitian-penelitian sebelumnya pada pH yang sangat asam yaitu paada pH 2 tidak terjadi pertumbuhan bakteri S.typhosa. Menurut Hanna (2005:1),  penelitian ini bersifat eksperimental dan bertujuan untuk mengetahui pH minimum di mana Salmonella typhi dapat hidup dan mengetahui pengaruh pH terhadap pertumbuhan Salmonella typhi. Suspensi Salmonella typhi berumur 18 - 24 jam dengan pengenceran 1/1.000.000 ditanamkan pada medium SS agar dengan pH 2,5 - 8 menggunakan metoda streak plate, kemudian diinkubasi selama 24 jam. pH medium diatur dengan menambahkan HCl pekat atau NaOH 2N ke dalam SS agar cair. Jumlah kuman yang tumbuh dihitung dalam colony forming unit (CFU) dikalikan faktor pengenceran, diambil rata-ratanya, kemudian dibandingkan dengan rata-rata jumlah kuman pada kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada Salmonella typhi yang tumbuh pada medium dengan pH 2,5 dan 3. Rata-rata jumlah kuman pada medium dengan pH 3,5 adalah 30.333.333, pH 4 = 35.000.000, pH 5 = 44.666.667, pH 6 = 75.666.667, pH 7 = 71.000.000 dan pH 8 = 66.000.000. Rata-rata jumlah kuman pada medium kontrol positif adalah 50.666.667. Disimpulkan bahwa Salmonella typhi mulai dapat tumbuh pada pH 3,5 dan pertumbuhannya menunjukkan peningkatan dari pH 3,5-6 serta tumbuh optimal pada pH 6-8 .
Pada perlakuan suhu dari hasil pengamatan, pada es batu dengan suhu 8°C yang dicampur suspensi bakteri dan diinkubasi selama 24 terlihat benda yang sangat kecil melayang-layang dalam media tersebut. Hal itu menandakan pada suhu tersebut dapat ditumbuhi bakteri S. typhi. Sedangkan pada suhu 90°C dengan perlakuan yang sama seperti sebelumnya, tidak nampak terlihat benda yang sangat kecil melayang-layang pada media tersebut. Hal itu menandakan bahwa tidak terjadinya pertumbuhan bakteri pada suhu yang tinggi tersebut.
G.    KESIMPULAN
1.      Bakteri dapat tumbuh baik pada suhu optimum, yaitu 37°C
2.      pH optimum untuk pertumbuhan bakteri berbeda-beda. Karena ada beberapa  jenis bakteri yang bisa hidup di pH yang sangat asam ataupun basa
3.      E.coli yang berada dibawah suhu minimal ataupun sedikit di atas suhu maksimal tidak langsung mati tapi mengalami dormanci
4.      Staphylococcus aureus dapat hidup pada suhu yang sangat asam
5.      Salmonella typhosa tidak dapat tumbuh pada suhu yang sangat panas yaitu di atas suhu 56°C














DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2009. Teknik Pengenalan, Penyiapan dan Penggunaan Alat LaboratoriumMikrobiologi.(Online).(http://firebiology07.wordpress.com/2009/ teknik-pengenalan-penyimpanan-alat-laboratorium-mikrobiologi, diakses 18 Oktober 2013)

Anonim.2010.Staphylococcus aureus.(Online).(http://digilib.unimus.ac.id/ files/disk1/105/jtptunimus-gdl.indartigo3-5224-2-bab2.pdf, diakses 15 Oktober 2013)


Anonim1.2011.KarakteristikStaphylococcusaureus.(Online).(http://repository.ipb.ac.id/Bitstream/handle/123456789/BAB%2011%20Tinjauan%20ustaka.pdf?sequence=4, diakses 16 Oktober 2013)


Anonim.2013.Mengenal bakteri Ercherichia coli.(Online).(http://spirit- ok.blogspot.com/2013/03/mengenal-bakteri-e-coli.html, diakses 13 Oktober 2013)

Budiyanto, Krisno Agus.2010.Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Mikroba. (Online).(http://zaifbio.wordpress.com/2010/11/08/faktor-lingkungan-yang mempengaruhi-mikroba/html, diakses 12 Oktober 2013)

Campbell,N.A dan Reece,J.B.2012.Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2.Jakarta:Erlangga.441 halaman

Emingko.2011.Manfaat dan Bahaya Bakteri. (Online). (http://www.emingko. com/2011/06/manfaat-dan-bahaya-bakteri-e-coli.html, diakses 17 Oktober 2013)


Irfa.2011.Karakteristik Bakteri Pseudomonas.(Online).(http://irfa.blogspot. com/2011 /12/karakteristik-bakteri-pseduomonas.html, diakses 13 Oktober 2013)
Melliawati,Ruth.2009.Escherichia coli dalam Kehidupan Manusia. (Online).(http://www.biotek.lipi.go.id/images/stories/biotrends/vol4no1/EcoliR.Melliawati1014.pdf, diakses 15 Oktober 2013)
Mothatha.2011.Salmonella typhosa.(Online).(http://mothatha.blogspot. com/2011/06/Bakteriologi.html, diakses 16 Oktober 2013)
Pelczar,M.J dan Chan,E.C.S.1988.Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 2.Jakarta: Universitas Indonesia.997 halaman

Puji.2012.Bakteri Staphylococcusaureus.(Online).(http:// pujipeje. blogspot. com/2012/ 05/bakteri-staphylococcus.html, diakses 15 Oktober 201

Purwoko,Tjahjadi.2007.Fisiologi Mikrobe.Jakarta:Bumi Aksara.285 halaman

Ratnawati, Hana dan Tyasrini,Endah.2005.Pengaruh pH Terhadap Pertumbuhan S.typhi.(Online).(http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/ Search.html?act=tampil&id=42080&idc=24, diakses 20 Oktober 2013)

Stainer,R.Y,dkk.1986.Dunia Mikrobe 3.Jakarta:Bhratara Karya Aksara.290 halaman