ABSTRAK
Nurjannah,
Fitri. 2013. Laporan Pengaruh Bahan Kimia (Zat Antimikroba) Terhadap
Pertumbuhan Mikroba Salmonella typhosa.
Program Studi Pendidikan Biologi. Program Sarjana (S1), Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Palembang, Dosen Pengasuh Susi
Dewiyeti, S.Si., M.Si.
Kata Kunci : Salmonella typhosa, Zat antimikroba, Faktor pertumbuhan Salmonella typhosa.
Salmonella
typhosa
adalah salah satu jenis bakteri gram negatif. Bakteri ini berbahaya bagi tubuh
manusia, yaitu dapat menyebabkan penyakit typus. Faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan Salmonella typhosa ini
adalah suhu, pH, cahaya, dll. Namun ada beberapa cara untuk membunuh mikroba
ini, yairu dengan menggunakan bahan kimia (zat antimiktroba). Zat antimikroba
adalah senyawa yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
Zat antimikroba ini dapat bersifat membunuh mikroorganisme atau menghambat
pertumbuhannya.
Pada praktikum ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh bahan kimia (zat antimikroba) terhadap pertumbuhan Salmonella typhosa dan untuk mengetahui
zona hambat dan luas zona sensitivitas yang terbentuk dari bahan kimia (zat
antimikroba) yang telah digunakan. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan,
ternyata bahan kimia yang digunakan seperti antibiotik dan antiseptik
(albothyl) dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang dapat dilihat dari zona
hambat yang terbentuk. Jadi, dapat disimpulkan bahwa antibiotik dan antiseptik
memiliki pengaruh besar terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri.
LAPORAN
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI TERAPAN
A. PRAKTIKUM
KE : 2
B. JUDUL : PENGARUH BAHAN
KIMIA (ZAT ANTI-
MIKROBA) TERHADAP
PERTUMBUHAN
MIKROBA Salmonella typhosa
C. TUJUAN : 1. Untuk mengetahui
pengaruh bahan kimia (zat
antimikroba) terhadap
pertumbuhan Salmonella typhosa
2.
Untuk mengetahui zona hambat dan luas zona
sensitifitas
D. DASAR
TEORI :
1. Salmonella typhosa
Salmonella adalah suatu
genus bacteria enterobakteria gram negatif berbentuk tongkat yang mengakibatkan
penyakit paratifus, tifus, dan penyakit foodborne. Salmonella merupakan
kuman gram negatif, tidak berspora dan panjangnya bervariasi. Kebanyakan
species bergerak dengan flagel peritrih. Salmonella
tumbuh cepat pada pembenihan biasa tetapi tidak meragikan sukrosa dan laktosa.
Kuman ini merupakan asam dan beberapa gas dari glukosa dan manosa. Kuman ini
bisa hidup dalam air yang dibekukan dengan masa yang lama. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia tertentu misalnya hijau
brilian, natrium tetrationat, dan natrium dioksikholat. Senyawa ini menghambat
kuman koliform dan karena itu bermanfaat untuk isolasi salmonella dari tinja
(Mothatha, 2011:1).

Gambar 1 Salmonella typhosa
(Sumber:
Anonim,2012,1)
Klasifikasi
Salmonella typhosa
Kingdom : Bakteria
Phylum : Proteobakteria
Classis : Gamma
proteobakteria
Ordo : Enterobakteriales
Familia : Enterobakteriakceae
Genus : Salmonella
Species : Salmonella typosa
Salmonella
thyphosa salah satu spesies dari genus Salmonella. Salmonella
thyposa, basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora
mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu antigen O (somatik,
terdiri dari zat komplekliopolisakarida, antigen H(flagella), antigen V1 dan
protein membrane hialin.
Salmonella
typhosa bersifat aerob dan aerob fakultatif, suhu optimum untuk pertumbuhannya
37oC dan pH optimum 6 sampai 8 dan dapat dibunuh
oleh pemanasan pada suhu 60oC selama 15-20 menit, pasteurisasi,
pendidihan serta kionisasi (Mothatha, 2011:1).
Salmonella typhosa ini termasuk bakteri gram negatif dan berkembang biak
dengan cara konjugasi. Pada umumnya, bakteri gram negatif dapat berkonjugasi
dengan banyak macam bakteri gram negatif dan dapat memindahkan DNA plasmid.
Akan tetapi efisiensi kawin interspesifik dan intergenik bermacam-macam. Pada
tabel dibawah ini memperlihatkan kisaran yang diamati bila F-lac dipindahkan
dari sel satu genus bakteri enteric gram negatif ke sel yang lain. Galur F+
dan F- telah dibuat pada banyak bakteri golongan enteric
dengan perpindahan plasmid yang sesuai dari E.coli K12. Dalam beberapa hal plasmid
ini menjdai penggabungan dengan kromosom penerima, yang membentuk sel donor
Hfr; Hfr seperti itu telah dihasilkan pada Salmonella,
Yeresinia pseudotuberculosis, dan Erwinia amylovora (Roger, Edward, dan
John, 1986:179).
2. Zat Antimikroba
Menurut
Anonim (2011:1), zat antimikroba adalah senyawa yang dapat membunuh atau
menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Zat antimikroba dapat bersifat membunuh
mikroorganisme (microbicidal) atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme
(microbiostatic). Menurut Pelczar dan Chan (1988:449), disinfektan
adalah suatu bahan biasanya zat kimia, yang mematikan sel vegetative tetapi
belum tentu mematikan bentuk-bentuk spora mikroorganisme penyebab penyakit.
Menurut
Pelczar dan Chan (1988:453-456), ada banyak faktor dan keadaan yang
mempengaruhi kerja antimikrobial, yaitu sbb:
a. Konsentrasi
atau intesitas zat antimikrobial dimana jika semakin tinggi konsentrasi bahan
kimia atau intensitas sarana fisik yang diberikan dalam suatu waktu tertentu,
maka makin cepat sasaran (mikroorganisme) akan mati
b. Jumlah
mikroorganisme dimana jika jumlah sel bakteri yang akan dibunuhnya banyak, maka
akan memerlukan waktu yang lebih lama supaya sel tersebut dapat benar-benar
mati
c. Suhu,
dimana jika bertambahnya suhu dapat meningkatkan kecepatan terbunuhnya sel-sel
bakteri
d. Spesies mikroorganisme, dimana pesies
mikroorganisme menunjukkan kerentanan yang berbeda-beda terhadap sarana fisik
dan bahan kimia. Telah kita ketahui bahwa pada spesies pembentuk spora, sel
vegetatif yang sedang tumbuh lebih mudah dibunuh dibandingkan dengan sporanya.
Sesungguhnya spora bakteri adalah yang paling resisten diantara semua organism
hidup dalam hal kemampuan dalam bertahan hidup pada keadaa fisik dan kimiawi
yang kurang baik.
e. Adanya
bahan organic, dimana adanya bahan organic asing dapat menurunkan dengan nyata
keefektifan zat kimia antimokrobial dengan cara menginaktifkan bahan-bahan
tersebut atau melindungi mikroorganisme dari padanya. Contohnya yaitu
penggabungan disinfektan dengan bahan organic membentuk produk yang tidak bersifat
mikrobisidial dan penggabungan disinfektan dengan bahan organik menghasilkan
suatu endapan, sehingga disinfektan tidak mungkin lagi mengikat mikroorganisme.
f. Kemasaman
atau kebasaan (pH), dimana mikroorganisme yang terdapat pada bahan dengan pH
asam dapat dibasmi pada suhu yang lebih rendah
dan dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan mikroorganisme
yang sama di dalam lingkungan yang basa.
Menurut
Anonim (2013:1), sedangkan cara kerja zat antimikroba dalam melakukan efeknya
terhadap mikroorganisme adalah sbb:
a. Merusak Dinding Sel
Pada umumnya bakteri memiliki suatu
lapisan luar yang kaku disebut dengan dinding sel. Dinding sel ini berfungsi
untuk mempertahankan bentuk dan menahan sel, dinding sel bakteri tersusun oleh
lapisan peptidoglikan yang merupakan polimer komplek terdiri atas asam N-asetil
dan N-asetilmuramat yang tersusun bergantian, setiap asam N-asetilmuramat
dikaitkan tetrapeptida yang terdiri dari empat asam amino, keberadaan lapisan
peptidoglikan ini menyebabkan dinding sel bersifat kaku dan kuat sehingga mampu
menahan tekanan osmotik dalam sel yang kaku. Kerusakan pada dinding sel dapat
terjadi dengan cara menghambat pembentukannya, yaitu penghambatan pada
sintetis dinding sel atau dengan cara mengubahnya setelah selesai terbentuk. Kerusakan
pada dinding sel akan berakibat terjadinya perubahan-perubahan yang mengarah
pada kematian sel.
b. Mengubah Permeabilitas Membran Sel
Sitoplasma semua sel hidup
dibatasi oleh suatu selaput yang dibatasi membran sel yang mempunyai
permeabilitas selektif, membran ini tersusun atas fosfolipid dan protein.
Membran sel berperan sangat fital yaitu mengatur transport zat keluar atau ke
dalam sel, melakukan pengangkutan aktif dan mengendalikansusunan dalam diri
sel.Proses pengangkutan zat-zat yang diperlukan baik ke dalam maupun ke luar
sel dimungkinkan kerena di dalam membran sel terdapat protein pembawa
(carrier), di dalam membran sitoplasma juga terdapat enzim protein untuk
mensintetis peptidoglikan komponen membran luar. Dengan rusaknya dinding sel bakteri
secara otomatis akan berpengaruh pada membran sitoplasma, beberapa bahan
antimikroba seperti fenol, kresol, deterjen dan beberapa antibiotik dapat
menyebabkan kerusakan kerusakan pada membran sel sehingga fungsi permeabilitas
membran mengalami kerusakan. Kerusakan pada membran ini akan mengakibatkan
terhambatnya pertumbuhan sel atau matinya sel.
c. Kerusakan Sitoplasma
Sitoplasma atau cairan sel
terdiri atas 80% air, asam nukleat, protein, karbohidrat, lipid, ion
organik dan berbagai senyawa dengan bobot melekul rendah. Kehidupan suatu sel
tergantung pada terpeliharanya molekul-molekul protein dan asam nukleat dalam
keadaan alamiahnya.Konsentrasi tinggi beberapa zat kimia dapat mengakibatkan
kuagulasi dan denaturasi komponen-komponen seluler yang fital.
d. Menghambat Kerja Enzim
Di dalam sel terdapat enzim dan
protein yang membantu kelangsungan proses-proses metabolisme, banyak zat
kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia misalnya logam berat,
golongan tembaga, perak, air raksa dan senyawa logam berat lainnya umumnya
efektif sebagai bahan antimikroba padakonsentrasi relative rendah. Logam-logam
ini akan mengikat gugus enzim sulfihidril yang berakibat terhadap
perubahan protein yang terbentuk. Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya
metabolisme atau matinya sel.
e. Menghambat Sintetis Asam Nukleat dan
Protein
DNA, RNA dan protein memegang
peranan sangat penting dalam sel, beberapa bahan antimikroba dalam bentuk
antibiotik misalnya cloramnivekol, tetrasiline, prumysin menghambat sintetis
protein. Sedangkan sintesis asam nukleat dapat dihambat oleh senyawa antibiotik
misalnya mitosimin. Bila terjadi gangguan pada pembentukan atau pada fungsi
zat-zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan total pada sel.
Ada
beberapa bahan kimia yang berfungsi sebagai zat
antimikroba, diantaranya adalah logam berat, antibiotik, dan antiseptik.
a.
Logam berat
Logam-logam
berat seperti Hg, Cu, Ag dan Pb bersifat racun terhadap sel meskipun hanya
dalam kadar rendah. Logam mengalami ionisasi dan ion-ion tersebut bereaksi
dengan bagian sulfihidril pada protein sel sehingga menyebabkan denaturasi.
Daya hambat atau mematikan dari logam dengan konsentrasi yang rendah disebut
daya oligodinamik (Anonim, 2011:2).
Menurut
Pelczar dan Chan (1988:495), banyak sekali persenyawaan logam berat memiliki
aktivitas germisidal atau antiseptik. Persenyawaan logam berat antimicrobial
yang paling penting adalah persenyawaan yang mengandung merkuri, perak, dan
tembaga. Merkuri kloride yang dulu merupakan disinfektan popular, kini tidak
digunakan lagi , namun beberapa persenyawaan merkuri organik (Mertiolat,
Mekurokrom, dan Metafen) masih digunakan sebagai antiseptik. Perak nitrat telah
lama digunakan untuk mencegah infeksi oleh gonokokus pada mata bayi yang baru
lahir. Salah satu cara kerja logam berat dan persenyawaannya ialah
mendenaturasikan protein. Dalam hal merkuri kloride, penghambatan diarahkan
pada enzim-enzim yang mengandung gugus sulfhidril seperti pada skema di bawah
ini.
Skema 1 Kerja
logam berat
SH
S
Enzim Aktif
Merkuri Enzim
inaktif
khloride
(Sumber: Pelczar
dan Chan,1988:495)
b.
Antibiotik
Menurut
Pelczar dan Chan (1988:511), antibiotik merupakan zat kimia yang dihasilkan
oleh suatu mikroorganisme yang menghambat mikroorganisme lain.
Antibiotik
berfungsi sebagai zat kematrapeutik. Menurut Pelczar dan Chan (1988:508),
karena zat kematerapeutik merupakan zat kimia yang digunakan untuk mengobati
penyakit menular (kemoterapi) atau
mencegah penyakit penyakit (kemoprofilaksis). Zat ini diperoleh dari
mikroorganisme atau tumbuhan atau disintesis di dalam laboratorium kimia.
Menurut Pelczar dan Chan (1988:514-515), suatu zat antibiotik
kemoterapeutik yang ideal hendaknya
memiliki sifat-sifat sbb:
1)
Harus memiliki kemampuan untuk merusak
atau menghambat mikroorganisme patogen spesifik. Makin besar jumlah dan macam
mikroorganisme yang dipengaruhi, makin baik. Antibiotik berspektrum luas
efektif terhadap banyak spesies.
2)
Tidak mengakibatkan berkembangnya
bentuk-bntuk resisten parasit.
3)
Tidak menimbulkan efek sampingan yang
tidak dikehendaki pada inang, seperti
reaksi alergis, kerusakan pada saraf, iritasi pada ginjal atau saluran
gastroinestin.
4)
Tidak melenyapkan flora mikroba normal
pada inang. Gangguan terhadap flora normal mikroba dapat mengacaukan
“keseimbangan alamiah”, sehingga memungkinkan mikroba yang biasanya
nonpatogenik atau bentuk-bentuk patogenik yang semula dikendalikan oleh flora
normal, untuk menimbulkan infeksi baru. Penggunaan antibiotic berspektrum luas
untuk waktu lama misalnya, dapat
melenyapkan flora bakteri normal tetapi tidak melenyapkan Monilia (cendawan) dari saluran pencernaan. Dalam keadaan demikian Monilia dapat menimbulkan infeksi.
5)
Harus dapat diberikan melalui mulut tanpa
diinaktifkan oelh asam lambung, atau melalui suntikan (parenteral) tanpa
terjadi pengikatan dengan protein darah.
6)
Memiliki taraf kelarutan yang tinggi
dalam zat alir tubuh.
7)
Konsentrasi antibiotic di dalam jaringan
atau darah harus dapat mencapai taraf cukup tinggi sehingga mampu
menghambat atau mematikan penyebab
infeksi.
Menurut
Anonim (2010:2), pada dasarnya antibiotik terbagi menjadi dua, yaitu antibiotik
alami dan antibiotik sintesis. Antibiotik alamiah merupakan antibiotik yang
telah tersedia secara alamiah yang merupakan hasil metabolisme sekunder dari
mikroorganisme tertentu. Antibiotik alamiah terdiri dari penisilin,
sefalosporin, streptomisin, tetraksilin, erythromisin, klorampenikol, dan
polimiksin. Sedangkan antibiotik sintesis merupakan antibiotik yang secara
keseluruhan disintesis atau dibuat di laboratorium dan merupakan zat kimia yang
berfungsi untuk menumbuh mikrobia, yang termasuk antibiotik sintesis adalah
sulfanomide, nitrofuran, hidrazide asam isonicotinamide, dan nalidiksat.
1)
Daya Kerja Antibiotik

Gambar 2 Cara kerja antibiotik
(Sumber: Beatty,2010:54)
Menurut
Anonim (2009:3), daya kerja antibiotik dapat dikategorikan menjadi empat cara,
yaitu sbb:
(a) Hambatan
sintesis dinding sel, obat-obat antibiotika yang mempunyai daya kerja menghambat
sintesis dinding sel dari mikroba, terutama bakteri diantaranya adalah Basitrasin, Sefalosporin, Penisilin,
Ristoferin, dan Vankomisin.
(b) Hambatan
fungsi dari selaput sel, diantaranya adalah Amfoteresin B, Kolistin, Nistatin,
Polimiksin.
(c) Hambatan
sintesis protein, diantaranya adalah Khlorompenikol, Erithromisin, Lingkomisin,
dan Tobramisin.
(d) Hambatan
sintesis asam nukleat, antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah Asam
nalidiksat, Novobiosin, Pirimetamin, Sulfonamid, Trimetopin, dan Rimfapin.
2)
Antibiotik yang Menghambat Pertumbuhan S. typhi
Antibiotik
yang dapat menghambat pertumbuhan Salmonella
typhi yang pertama adalah Chloramphenicol yang merupakan antibiotik yang
memiliki spectrum luas dan aktif terhadap bakteri gram positif dan negatif,
lebih bersifat bakteriostatik, dapat melekat pada ribosom bakteri serta
mengganggu pengikatan asam amino baru pada rantai peptide. Kedua Nalidicix acid
merupakan antibiotika golongan kuinolom yang bekerja dengan cara menghambat
enzim DNA girase bakteri dan biasanya bersifat bakterisid terhadap kebanyakan
kuman penyebab infeksi saluran kemih. Ketiga adalah Amphicilin yang merupakan
antibiotika yang termasuk dalam golongan penisilin. Obat lain yang termasuk
dalam golongan ini salah satunya adalah Amoxylin. Amphicilin tidak membunuh
bakteri secara langsung, tetapi dengan cara mencegah bakteri membentuk semacam
lapisan kapsul yang melekat di sekujur tubuh yang berfungsi untuk melindungi
bakteri dari perubahan lingkungan dan menjaga tubuh bakteri agar tidak tercerai
berai. Bakteri tidak akan bisa hidup tanpa adanya lapisan kapsul ini.
c.
Albothyl (antiseptik)
Menurut
Dicckha (2012:9), antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau
menghancurkan miroorganisme pada jaringan hidup. Sedangkan disinfektak
digunakan pada benda mati. Disinfektan dapat pula digunakan sebgai antiseptik
atau sebaliknya tergantung toksisitasnya. Beberapa antiseptik merupakan
germisida, yaitu mampu membunuh mikroba dan ada pula yang hanya mencegah atau
menunda pertumbuhan mikroba tersebut. Antiseptik dapat digunakan untuk:
1)
Disinfeksi tangan: menjadi
pengganti atau menyempurnakan membasuh tangan dengan air. Tenaga medis dan
paramedis harus melakukan disinfeksi tangan dengan antiseptik sebelum dan
sesudah melakukan tindakan medis.
2)
Disinfeksi pra-tindakan: antiseptik
diterapkan ke lokasi tindakan untuk mengurangi flora kulit.
3)
Disinfeksi membran mukosa: irigasi
antiseptik dapat ditanamkan ke dalam uretra, kandung kemih atau vagina untuk
mengobati infeksi atau membersihkan rongga sebelum kateterisasi.
4)
Disinfeksi mulut dan
tenggorokan: Obat kumur antiseptik dapat digunakan untuk mencegah dan
mengobati infeksi mulut dan tenggorokan.
3.
Zona
Hambat
Zona hambat adalah zona bening yang
terbentuk disekitar lubang yang menunjukkan bakteri tidak dapat tumbuh di sekitar
lubang tempat pemberian filtrate. Zona bening yang terbentuk disekeliling
lubang tersebut diukur dengan menggunakan jangka sorong. Zona hambat yang
terkecil menunjukkan aktifitas antibakteri yang terendah, sedangkan zona hambat
yang terbesar menunjukkan aktifitas antibakteri yang semakin besar
(Anonim,2007:1).

Gambar 3 Zona Hambat
(Sumber: Wiki, 2011:1)
Gambar diatas adalah contoh zona
hambat yang terbentuk. Zona hambat yang terbentuk berbeda-beda satu sama lain.
Hal ini terjadi karena perbedaan aktifitas antibakteri terhadap bakteri yang
telah diinokulasikan bersama media.
Uji sensitivitas bakteri
merupakan cara untuk mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi
sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan
atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah.
E. PELAKSANAAN
PRAKTIKUM
1. WAKTU
DAN TEMPAT
1) Waktu : 1) Praktikum : Kamis, 24 Oktober 2013
jam 13.00-14.00
2) Pengamatan
: Jumat, 25 Oktober 2013 jam 13.00-13.30
2) Tempat : Laboratorium Biologi Program Studi Pend.
Biologi FKIP
Universitas
Muhammadiyah Palembang
2. ALAT
DAN BAHAN
a. Alat : Cawan petri, tabung reaksi, pinset,
Bunsen, rak tabung rak
tabung reaksi, jarum
ose, sprayer, autoclave, inkubator,
jangka sorong, penggaris, kertas label, penggaris,
beaker
glass
b. Bahan :Media agar Nutrien Agar (NA), biakan
bakteri Salmonella
typhosa,
kapas, alcohol 96%, spritus, tissue, paper dish diameter 6mm, alcohol 70%,
pemutih pakaian (bayclean), betadine, uang logam, antibiotik amoxylin 500mg,
sabun cair detol/lifebuoy, detol cair, wifol, antiseptic tangan cair/gel,
sunlight antibakteri, albotil, molto antibakteri, kapas lidi steril, kertas HVS.
3. CARA
KERJA
a. Mengamati
pengaruh antimikroba dari uang logam (daya oligodinamik)
1) Inokulasi
bakteri ke media NA dalam cawan petri secara aseptis
2) Uang
logam dicuci bersih, ukur diameter uang logam, catat
3) Uang
logam dijepit dengan pinset dan dibakar di atas api Bunsen selama beberapa
detik, biarkan sesaat kemudian letakkan secara aseptis diatas media NA yang
sudah diinokulasi bakteri
4) Bungkus
cawan petri secara terbalik (MENGAPA?) dengan kertas putih, kemudian inkubasi
selama 24-48 jam dalam inkubator pada suhu 37°C
5) Setelah
inkubasi, ukur zona hambat yang terbentuk dengan jangka sorong/penggaris.
6) Rumus
Luas Zona Sensitifitas = Luas zona hambat – Luas uang logam
b. Mengamati
pengaruh bahan kimia dan antibiotik
1) Inokulasi
bakteri ke media NA dalam cawan petri secara aseptis
2) Uang
logam dicuci bersih, ukur diameter uang logam, catat
3) Uang
logam dijepit dengan pinset dan dibakar di atas api Bunsen selama beberapa
detik, biarkan sesaat kemudian letakkan secara aseptis diatas media NA yang
sudah diinokulasi bakteri
4) Bungkus
cawan petri secara terbalik (MENGAPA?) dengan kertas putih, kemudian inkubasi
selama 24-48 jam dalam inkubator pada suhu 37°C
5) Setelah
inkubasi, ukur zona hambat yang terbentuk dengan jangka sorong/penggaris.
6) Rumus
Luas Zona Sensitifitas = Luas zona hambat – Luas uang logam
Mengapa
cawan petri harus dibalik?
Karena
untuk menghindari terjadinya tetesan air dari respirasi mikroba atau agar uap
air yang terkondensasi pada tutup cawan petri tidak menetes di media NA,
sehingga mikroba yang tumbuh sesuai seperti yang diharapkan dan apabila tidak
dibalikkan maka kemungkinan besar ketika kita mengangkat, maka cawan petri
tersebut akan terbuka sehingga menyebabkan terjadinya kontaminasi.
- HASIL DAN PEMBAHASAN
1. HASIL
PRAKTIKUM

Gambar 4 Zona Hambat yang Terbentuk
Tabel
1 Pengaruh antimikroba dari uang logam,
bahan kimia, dan antibiotik terhadap adanya zona hambat pada bakteri Salmonella typhosa
No. Perlakuan L.Zona Hambat
L.Zona sensitifitas
1 Uang logam yang
sudah dibakar - -
diatas api bunsen diletakkan
diatas media NA yang telah
diinokulasi bakteri Salmonella
typhosa
2 Paper dish yang sudah direndam
1,258 cm 0,9754 cm
antibiotik diletakkan diatas media
NA yang telah diinokulasi bakteri
Salmonella
typhosa
3 Paper dish yang sudah direndam
5,72265 cm 5,44 cm
albotil diletakkan diatas media NA
yang telah diinokulasi bakteri
Salmonella
typhosa
2. PEMBAHASAN
Nutrien Agar (NA) merupakan salah satu
media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari
air, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk pengendalian
mikroorganisme dalam kultur murni. Media ini berbentuk padat yang diguanakan
untuk mengetahui zona hambat sehingga diketahui bentuk, diameter, warna koloni
bakteri, serta perubahan medium sebelum dilakukan uji lanjutan.
1) Pengaruh
antimikroba dari uang logam (daya oligodinamik) terhadap pembentukan zona
hambat pada biakan bakteri Salmonella
typhosa
Pada perlakuan pertama praktikum,
digunakan uang logam yang telah dipanaskan kemudian diletakkan di atas cawan
petri yang berisi media Nutrien Agar (NA) yang telah diinokulasi bakteri Salmonella typhosa dan bungkus cawan
petri secara terbalik dengan kertas putih dan diinkubasi selama 24 jam dengan
suhu 37°C. Menurut Harun (2009:19), cawan petri dibungkus dengan terbalik agar
uap air yang terkondensasi pada tutup cawan tidak menetes pada media Nutrien
Agara (NA). Dari hasil pengamatan pada perlakuan pertama ini dapat dilihat di
sekitar keliling uang logam tidak terbentuk zona hambat. Disekitar uang logam
tersebut masih ditumbuhi bakteri. Meskipun logam memiliki daya oligodinamik
atau daya hambat yang berasal dari logam berat yang dapat mematikan
mikroorganisme, namun daya hambat ataupun daya mematikan hanya dengan
konsentrasi yang rendah. Menurut Anonim
(2011:2), logam-logam berat seperti Hg, Cu, Ag dan Pb bersifat racun terhadap
sel meskipun hanya dalam kadar rendah. Logam mengalami ionisasi dan ion-ion
tersebut bereaksi dengan bagian sulfihidril pada protein sel sehingga
menyebabkan denaturasi. Daya hambat atau mematikan dari logam dengan
konsentrasi yang rendah disebut daya oligodinamik.
2) Pengaruh
antibiotik (amoxylin) terhadap pembentukan zona hambat pada biakan bakteri Salmonella typhosa
Pada perlakuan kedua praktikum ini
digunakan antibiotik (amoxylin). Dimana paper dish yang berdiameter 6 mm
direndam dengan amoxylin yang telah dilarutkan kemudian diletakkan diatas cawan
petri yang berisi media NA yang telah diinokulasi bakteri Salmonella typhosa kemudian membungkus cawan petrinya dengan cara
terbalik agar uap air yang terkondensasi pada tutup cawan petri tidak menetes
di media NA (Harun, 2009:19). Kemudian
letakkan cawan petri yang berisi media NA yang telah diinokulasi bakteri Salmonella typhosa ke dalam inkubator
dengan suhu 37°C selama 24 jam. Setelah diinkubasi, terlihat jelas bakteri yang
tumbuh di cawan petri tersebut, namun di sekitar paper dish yang telah direndam
antibiotik amoxylin terbentuk zona hambat, dimana disekitar paper dish tersebut
tidak ditumbuhi bakteri. Luas zona hambat yang terbentuk adalah 1,26 cm
sedangkan luas zona sensitifitas yang terbentuk adalah 0,9774 cm. Ini
menandakan bahwa antibiotik amoxylin dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhosa dan menandakan bahwa
bakteri ini sensitif terhadap bahan antimikroba, serta amoxylin memiliki daya
kerja antimikroba yang rendah karena zona hambat yang terbentuk lebih kecil
dibanding zona hambat pada antimokroba lain (albthyl). Menurut Anonim (2007:1),
zona hambat yang terkecil menunjuk-
kan aktifitas antibakteri yang terendah, sedangkan zona hambat yang terbesar
menunjukkan aktifitas antibakteri yang semakin besar..
Menurut Anonim (2013:4), bakteri
yang sensitif terhadap bahan antimikroba akan ditandai dengan adanya daerah
hambatan di sekitar cakram, sedangkan bakteri yang resisten terlihat tetap
tumbuh pada tepi kertas cakram tersebut.
3)
Pengaruh albothyl terhadap terhadap
pembentukan zona hambat pada biakan bakteri Salmonella
typhosa
Pada perlakuan terakhir adalah
menggunakan albothyl sebagai bahan antimikroba. Dimana paper dish yang
berdiameter 6mm direndam dalam larutan albothyl kemudian diletakkan diatas
cawan petri yang berisi media NA yang telah diinokulasi bakteri Salmonella typhosa dan cawan petri
tersebut dibungkus secara terbalik
dengan kertas putih agar uap air yang terkondensasi pada tutup cawan petri
tidak menetes pada media agar. Lalu cawan petri dimasukkan ke dalam inkubator
untuk diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C. Setelah 24 jam terlihat secara
kasap mata mikroorganisme yang tumbuh pada cawan petri tersebut yang disebut
koloni. Namun di sekitar paper dish yang telah direndam albothyl tidak
ditumbuhi bakteri atau terbentuk zona hambat disekitar paper dish tersebut.
Luas zona hambat yang terbentuk adalah 5,72265 cm dan luas zona sensitifitas
yang terbentuk adalah 5,44005 cm. Ini menandakan bahwa Salmonella typhosa sensitif terhadap bahan antimikroba dan
antibakteri (albothyl) yang digunakan memiliki aktifitas yang besar terhdap
bakteri Salmonella typhosa yang telah diinokulasi pada media NA. Menurut Anonim
(2013:4), bakteri
yang sensitif terhadap bahan antimikroba akan ditandai dengan adanya daerah
hambatan di sekitar cakram, sedangkan bakteri yang resisten terlihat tetap
tumbuh pada tepi kertas cakram tersebut. Menurut Anonim (2007:1), zona hambat
yang terkecil menunjukkan aktifitas antibakteri yang terendah, sedangkan zona
hambat yang terbesar menunjukkan aktifitas antibakteri yang semakin besar.
G. KESIMPULAN
1.
Salmonella typhosa termasuk bakteri yang sensitif
terhadap adanya bahan kimia atau antimikroba
2.
Dalam
meletakkan cawan petri harus dengan posisi terbalik karena untuk mencegah
kondensasi yang terbentuk pada tutup cawan selama pembekuan dan jatuh mengenai
permukaan media NA
3.
Pada
saat menginokulasi bakteri pada media NA harus secara aseptis dan mulut cawan
petri tidak boleh terbuka lebih dari satu menit.
4.
Semakin kecil zona hambat yang terbentuk
maka semakin rendah kerja antibakteri dan semakin besar zona hambat yang
terbentuk maka semakin tinggi kerja antibakteri.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2007.Zona Hambat.(Online).(http://repository.ipb.ac.id/bitstream
/handle/123456789/33107/Bab%20IV.Hasil%20dan%20Pembahasan%20G07fro.pdf;jsessionid=154733EF0437E39D535CCC35F29E859F?sequence=8,
diakses 30 Oktober 2013)
Anonim.2010.Antibiotik.(Online).(http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/107/
jtptunimus-gdl-pututkunco-5305-2-bab2.pdf, diakses 26 Oktober 2013)
Anonim.2011.Daya Kerja Antimikroba dan Oligodinamik.(Online).(http://
wikisains.blogspot.com/2011/01/daya-kerja-antimikorba-dan-oligodinamik.html,
diakses 26 Oktober 2013)
Anonim
2013.Desinfeksi dan Desinfektan.(Online).(http://sketsaistjourney.
wordpress.com/2013/03/28/desinfeksi-dan-desinfektan/, diakses 28
Oktober 2013)
Beatty,Richard,dkk.2010.Volume4Mikroorganisme.Jakarta:Grolier
Publishing Company.80 halaman
Dicckha.2012.Desinfektan dan Antiseptik.(Online).(http://dicckha.blogspot.
com/2012/05/desinfektan-dan-antiseptik.html, diakses 28 Oktober
2013)
Harun.2009.Penggunaan Cawan Petri.(Online).(http://webcache.google
usercontent.com/search?q=cache:WeigXu8zioJ:hetsaharun.files.wordpress.com/2009/12/lap-cawan-htng.doc+&cd=6&hl=id&ct=clnk,
diakses 26 Oktober 2013)
Mothatha.2011.Salmonella typhosa.(Online).(http://mothatha.blogspot.com/
2011/06/Bakteriologi.html, diakses 26 Oktober 2013)
Pelczar.M.J dan
Chan.E.C.S.1988.Dasar-dasar Mikrobiologi
Jilid 2.Jakarta:Universitas Indonesia.997 halaman
Stainer,R.Y,dkk.1986.Dunia Mikrobe 3.Jakarta:Bhratara Karya Aksara.290 halaman
Wiki.2011.Zona Hambat.(Online).(http://www.google.com/imgres?imgurl
=http://mulyadiveterinary.files.wordpress.com/2011/07/81.jpg&imgrefurl=http://mulyadiveterinary.wordpress.com/2011/07/06/147/&h=257&w=369&sz=28&tbnid=LrG_ynXja9mOQM:&tbnh=90&tbnw=129&zoom=1&usg=___gzV1isYbqXduLxw9a7Dg3UgKjI=&docid=zuukuGgH2GPbNM&sa=X&ei=r_dwUpChFIP9rAfu9oHACA&ved=0CGcQ9QEwCA,
diakses 30 Oktober 2013)