Jumat, 25 April 2014

Laporan Pengaruh Zat Antimikroba Terhadap Pertumbuhan Salmonella typhosa



ABSTRAK
Nurjannah, Fitri. 2013. Laporan Pengaruh Bahan Kimia (Zat Antimikroba) Terhadap Pertumbuhan Mikroba Salmonella typhosa. Program Studi Pendidikan Biologi. Program Sarjana (S1), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Palembang, Dosen Pengasuh Susi Dewiyeti, S.Si., M.Si.
Kata Kunci : Salmonella typhosa, Zat antimikroba, Faktor pertumbuhan Salmonella typhosa.

Salmonella typhosa adalah salah satu jenis bakteri gram negatif. Bakteri ini berbahaya bagi tubuh manusia, yaitu dapat menyebabkan penyakit typus. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan Salmonella typhosa ini adalah suhu, pH, cahaya, dll. Namun ada beberapa cara untuk membunuh mikroba ini, yairu dengan menggunakan bahan kimia (zat antimiktroba). Zat antimikroba adalah senyawa yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Zat antimikroba ini dapat bersifat membunuh mikroorganisme atau menghambat pertumbuhannya.

Pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan kimia (zat antimikroba) terhadap pertumbuhan Salmonella typhosa dan untuk mengetahui zona hambat dan luas zona sensitivitas yang terbentuk dari bahan kimia (zat antimikroba) yang telah digunakan. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, ternyata bahan kimia yang digunakan seperti antibiotik dan antiseptik (albothyl) dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang dapat dilihat dari zona hambat yang terbentuk. Jadi, dapat disimpulkan bahwa antibiotik dan antiseptik memiliki pengaruh besar terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri.







LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI TERAPAN
A.    PRAKTIKUM KE          : 2
B.     JUDUL                            : PENGARUH BAHAN KIMIA (ZAT ANTI-
                                         MIKROBA) TERHADAP PERTUMBUHAN
                                         MIKROBA Salmonella typhosa        
C.     TUJUAN                         : 1. Untuk mengetahui pengaruh bahan kimia (zat
antimikroba) terhadap pertumbuhan Salmonella typhosa
2. Untuk mengetahui zona hambat dan luas zona
    sensitifitas
D.    DASAR TEORI              :
1.      Salmonella typhosa
Salmonella adalah suatu genus bacteria enterobakteria gram negatif berbentuk tongkat yang mengakibatkan penyakit paratifus, tifus, dan penyakit foodborne. Salmonella merupakan kuman gram negatif, tidak berspora dan panjangnya bervariasi. Kebanyakan species bergerak dengan flagel peritrih. Salmonella tumbuh cepat pada pembenihan biasa tetapi tidak meragikan sukrosa dan laktosa. Kuman ini merupakan asam dan beberapa gas dari glukosa dan manosa. Kuman ini bisa hidup dalam air yang dibekukan dengan masa yang lama. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia tertentu misalnya hijau brilian, natrium tetrationat, dan natrium dioksikholat. Senyawa ini menghambat kuman koliform dan karena itu bermanfaat untuk isolasi salmonella dari tinja (Mothatha, 2011:1).
Gambar 1 Salmonella typhosa
(Sumber: Anonim,2012,1)
Klasifikasi Salmonella typhosa
Kingdom       : Bakteria
Phylum          : Proteobakteria
Classis           : Gamma proteobakteria
Ordo             : Enterobakteriales
Familia          : Enterobakteriakceae
Genus            : Salmonella
Species          : Salmonella typosa
Salmonella thyphosa salah satu spesies dari genus Salmonella. Salmonella thyposa, basil gram negatif  yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu antigen O (somatik, terdiri dari zat komplekliopolisakarida, antigen H(flagella), antigen V1 dan protein membrane hialin.
Salmonella typhosa bersifat aerob dan aerob fakultatif, suhu optimum untuk pertumbuhannya 37oC dan pH optimum 6 sampai 8 dan dapat dibunuh oleh pemanasan pada suhu 60oC selama 15-20 menit, pasteurisasi, pendidihan serta kionisasi (Mothatha, 2011:1).
Salmonella typhosa ini termasuk bakteri gram negatif dan berkembang biak dengan cara konjugasi. Pada umumnya, bakteri gram negatif dapat berkonjugasi dengan banyak macam bakteri gram negatif dan dapat memindahkan DNA plasmid. Akan tetapi efisiensi kawin interspesifik dan intergenik bermacam-macam. Pada tabel dibawah ini memperlihatkan kisaran yang diamati bila F-lac dipindahkan dari sel satu genus bakteri enteric gram negatif ke sel yang lain. Galur F+ dan F- telah dibuat pada banyak bakteri golongan enteric dengan perpindahan plasmid yang sesuai dari E.coli K12. Dalam beberapa hal plasmid ini menjdai penggabungan dengan kromosom penerima, yang membentuk sel donor Hfr; Hfr seperti itu telah dihasilkan pada Salmonella, Yeresinia pseudotuberculosis, dan Erwinia amylovora (Roger, Edward, dan John, 1986:179).
2.      Zat Antimikroba
Menurut Anonim (2011:1), zat antimikroba adalah senyawa yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Zat antimikroba dapat bersifat membunuh mikroorganisme (microbicidal) atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme (microbiostatic). Menurut Pelczar dan Chan (1988:449), disinfektan adalah suatu bahan biasanya zat kimia, yang mematikan sel vegetative tetapi belum tentu mematikan bentuk-bentuk spora mikroorganisme penyebab penyakit.
Menurut Pelczar dan Chan (1988:453-456), ada banyak faktor dan keadaan yang mempengaruhi kerja antimikrobial, yaitu sbb:
a.       Konsentrasi atau intesitas zat antimikrobial dimana jika semakin tinggi konsentrasi bahan kimia atau intensitas sarana fisik yang diberikan dalam suatu waktu tertentu, maka makin cepat sasaran (mikroorganisme) akan mati
b.      Jumlah mikroorganisme dimana jika jumlah sel bakteri yang akan dibunuhnya banyak, maka akan memerlukan waktu yang lebih lama supaya sel tersebut dapat benar-benar mati
c.       Suhu, dimana jika bertambahnya suhu dapat meningkatkan kecepatan terbunuhnya sel-sel bakteri
d.       Spesies mikroorganisme, dimana pesies mikroorganisme menunjukkan kerentanan yang berbeda-beda terhadap sarana fisik dan bahan kimia. Telah kita ketahui bahwa pada spesies pembentuk spora, sel vegetatif yang sedang tumbuh lebih mudah dibunuh dibandingkan dengan sporanya. Sesungguhnya spora bakteri adalah yang paling resisten diantara semua organism hidup dalam hal kemampuan dalam bertahan hidup pada keadaa fisik dan kimiawi yang kurang baik.
e.       Adanya bahan organic, dimana adanya bahan organic asing dapat menurunkan dengan nyata keefektifan zat kimia antimokrobial dengan cara menginaktifkan bahan-bahan tersebut atau melindungi mikroorganisme dari padanya. Contohnya yaitu penggabungan disinfektan dengan bahan organic membentuk produk yang tidak bersifat mikrobisidial dan penggabungan disinfektan dengan bahan organik menghasilkan suatu endapan, sehingga disinfektan tidak mungkin lagi mengikat mikroorganisme.
f.     Kemasaman atau kebasaan (pH), dimana mikroorganisme yang terdapat pada bahan dengan pH asam dapat dibasmi pada suhu yang lebih rendah  dan dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan mikroorganisme yang sama di dalam lingkungan yang basa.
Menurut Anonim (2013:1), sedangkan cara kerja zat antimikroba dalam melakukan efeknya terhadap mikroorganisme adalah sbb:
a.    Merusak Dinding Sel
Pada umumnya bakteri memiliki suatu lapisan luar yang kaku disebut dengan dinding sel. Dinding sel ini berfungsi untuk mempertahankan bentuk dan menahan sel, dinding sel bakteri tersusun oleh lapisan peptidoglikan yang merupakan polimer komplek terdiri atas asam N-asetil dan N-asetilmuramat yang tersusun bergantian, setiap asam N-asetilmuramat dikaitkan tetrapeptida yang terdiri dari empat asam amino, keberadaan lapisan peptidoglikan ini menyebabkan dinding sel bersifat kaku dan kuat sehingga mampu menahan tekanan osmotik dalam sel yang kaku. Kerusakan pada dinding sel dapat terjadi dengan cara menghambat pembentukannya, yaitu penghambatan pada  sintetis dinding sel atau dengan cara mengubahnya setelah selesai terbentuk. Kerusakan pada dinding sel akan berakibat terjadinya perubahan-perubahan yang mengarah pada kematian sel.
b.    Mengubah Permeabilitas Membran Sel
Sitoplasma semua sel hidup dibatasi  oleh suatu selaput yang dibatasi membran sel yang mempunyai permeabilitas selektif, membran ini tersusun atas fosfolipid dan protein. Membran sel berperan sangat fital yaitu mengatur transport zat keluar atau ke dalam sel, melakukan pengangkutan aktif dan mengendalikansusunan dalam diri sel.Proses pengangkutan zat-zat yang diperlukan baik ke dalam maupun ke luar sel dimungkinkan kerena di dalam  membran sel terdapat protein pembawa (carrier), di dalam membran sitoplasma juga terdapat enzim protein untuk mensintetis peptidoglikan komponen membran luar. Dengan rusaknya dinding sel bakteri secara otomatis akan berpengaruh pada membran sitoplasma, beberapa bahan antimikroba seperti fenol, kresol, deterjen dan beberapa antibiotik dapat menyebabkan kerusakan kerusakan pada membran sel sehingga fungsi permeabilitas membran mengalami kerusakan. Kerusakan pada membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau matinya sel.
c.    Kerusakan Sitoplasma
Sitoplasma atau cairan sel terdiri  atas 80% air, asam nukleat, protein, karbohidrat, lipid, ion organik dan berbagai senyawa dengan bobot melekul rendah. Kehidupan suatu sel tergantung pada terpeliharanya molekul-molekul protein dan asam nukleat dalam keadaan alamiahnya.Konsentrasi tinggi beberapa zat kimia dapat mengakibatkan kuagulasi dan denaturasi komponen-komponen seluler yang fital.
d.   Menghambat Kerja Enzim
Di dalam sel terdapat enzim dan protein yang membantu kelangsungan proses-proses metabolisme, banyak zat  kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia misalnya logam berat, golongan tembaga, perak, air raksa dan senyawa logam berat lainnya umumnya efektif sebagai bahan antimikroba padakonsentrasi relative rendah. Logam-logam ini akan mengikat gugus enzim sulfihidril yang berakibat terhadap  perubahan protein yang terbentuk. Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau matinya sel.


e.    Menghambat Sintetis Asam Nukleat dan Protein
DNA, RNA dan protein memegang peranan sangat penting dalam sel, beberapa bahan antimikroba dalam bentuk  antibiotik  misalnya cloramnivekol, tetrasiline, prumysin menghambat sintetis protein. Sedangkan sintesis asam nukleat dapat dihambat oleh senyawa antibiotik misalnya mitosimin. Bila terjadi gangguan pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan total pada sel.
Ada beberapa bahan kimia yang berfungsi sebagai zat  antimikroba, diantaranya adalah logam berat, antibiotik, dan antiseptik.
a.         Logam berat
Logam-logam berat seperti Hg, Cu, Ag dan Pb bersifat racun terhadap sel meskipun hanya dalam kadar rendah. Logam mengalami ionisasi dan ion-ion tersebut bereaksi dengan bagian sulfihidril pada protein sel sehingga menyebabkan denaturasi. Daya hambat atau mematikan dari logam dengan konsentrasi yang rendah disebut daya oligodinamik (Anonim, 2011:2).
Menurut Pelczar dan Chan (1988:495), banyak sekali persenyawaan logam berat memiliki aktivitas germisidal atau antiseptik. Persenyawaan logam berat antimicrobial yang paling penting adalah persenyawaan yang mengandung merkuri, perak, dan tembaga. Merkuri kloride yang dulu merupakan disinfektan popular, kini tidak digunakan lagi , namun beberapa persenyawaan merkuri organik (Mertiolat, Mekurokrom, dan Metafen) masih digunakan sebagai antiseptik. Perak nitrat telah lama digunakan untuk mencegah infeksi oleh gonokokus pada mata bayi yang baru lahir. Salah satu cara kerja logam berat dan persenyawaannya ialah mendenaturasikan protein. Dalam hal merkuri kloride, penghambatan diarahkan pada enzim-enzim yang mengandung gugus sulfhidril seperti pada skema di bawah ini.
Skema 1 Kerja logam berat
                                                          S
                SH                                                 
Ezim                    +HgCl2 à enzim                  Hg + 2HCl
                    SH
                                                                              S
Enzim Aktif           Merkuri                              Enzim inaktif
                                 khloride

(Sumber: Pelczar dan Chan,1988:495)
                                 
b.         Antibiotik
Menurut Pelczar dan Chan (1988:511), antibiotik merupakan zat kimia yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang menghambat mikroorganisme lain.
Antibiotik berfungsi sebagai zat kematrapeutik. Menurut Pelczar dan Chan (1988:508), karena zat kematerapeutik merupakan zat kimia yang digunakan untuk mengobati penyakit menular (kemoterapi)  atau mencegah penyakit penyakit (kemoprofilaksis). Zat ini diperoleh dari mikroorganisme atau tumbuhan atau disintesis di dalam laboratorium kimia. Menurut Pelczar dan Chan (1988:514-515), suatu zat antibiotik kemoterapeutik  yang ideal hendaknya memiliki sifat-sifat sbb:
1)        Harus memiliki kemampuan untuk merusak atau menghambat mikroorganisme patogen spesifik. Makin besar jumlah dan macam mikroorganisme yang dipengaruhi, makin baik. Antibiotik berspektrum luas efektif  terhadap banyak spesies.
2)        Tidak mengakibatkan berkembangnya bentuk-bntuk resisten parasit.
3)        Tidak menimbulkan efek sampingan yang tidak dikehendaki pada inang, seperti  reaksi alergis, kerusakan pada saraf, iritasi pada ginjal atau saluran gastroinestin.
4)        Tidak melenyapkan flora mikroba normal pada inang. Gangguan terhadap flora normal mikroba dapat mengacaukan “keseimbangan alamiah”, sehingga memungkinkan mikroba yang biasanya nonpatogenik atau bentuk-bentuk patogenik yang semula dikendalikan oleh flora normal, untuk menimbulkan infeksi baru. Penggunaan antibiotic berspektrum luas untuk waktu lama misalnya,  dapat melenyapkan flora bakteri normal tetapi tidak melenyapkan Monilia (cendawan) dari saluran pencernaan. Dalam keadaan demikian Monilia dapat menimbulkan infeksi.
5)        Harus dapat diberikan melalui mulut tanpa diinaktifkan oelh asam lambung, atau melalui suntikan (parenteral) tanpa terjadi pengikatan dengan protein darah.
6)        Memiliki taraf kelarutan yang tinggi dalam zat alir tubuh.
7)        Konsentrasi antibiotic di dalam jaringan atau darah harus dapat mencapai taraf cukup tinggi sehingga mampu menghambat  atau mematikan penyebab infeksi.
Menurut Anonim (2010:2), pada dasarnya antibiotik terbagi menjadi dua, yaitu antibiotik alami dan antibiotik sintesis. Antibiotik alamiah merupakan antibiotik yang telah tersedia secara alamiah yang merupakan hasil metabolisme sekunder dari mikroorganisme tertentu. Antibiotik alamiah terdiri dari penisilin, sefalosporin, streptomisin, tetraksilin, erythromisin, klorampenikol, dan polimiksin. Sedangkan antibiotik sintesis merupakan antibiotik yang secara keseluruhan disintesis atau dibuat di laboratorium dan merupakan zat kimia yang berfungsi untuk menumbuh mikrobia, yang termasuk antibiotik sintesis adalah sulfanomide, nitrofuran, hidrazide asam isonicotinamide, dan nalidiksat.
1)        Daya Kerja Antibiotik
Gambar 2 Cara kerja antibiotik
(Sumber: Beatty,2010:54)

Menurut Anonim (2009:3), daya kerja antibiotik dapat dikategorikan menjadi empat cara, yaitu sbb:
(a)      Hambatan sintesis dinding sel, obat-obat antibiotika yang mempunyai daya kerja menghambat sintesis dinding sel dari mikroba, terutama bakteri diantaranya adalah Basitrasin, Sefalosporin, Penisilin, Ristoferin, dan Vankomisin.
(b)      Hambatan fungsi dari selaput sel, diantaranya adalah Amfoteresin B, Kolistin, Nistatin, Polimiksin.
(c)      Hambatan sintesis protein, diantaranya adalah Khlorompenikol, Erithromisin, Lingkomisin, dan Tobramisin.
(d)     Hambatan sintesis asam nukleat, antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah Asam nalidiksat, Novobiosin, Pirimetamin, Sulfonamid, Trimetopin, dan Rimfapin.
2)        Antibiotik yang Menghambat Pertumbuhan S. typhi
Antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan Salmonella typhi yang pertama adalah Chloramphenicol yang merupakan antibiotik yang memiliki spectrum luas dan aktif terhadap bakteri gram positif dan negatif, lebih bersifat bakteriostatik, dapat melekat pada ribosom bakteri serta mengganggu pengikatan asam amino baru pada rantai peptide. Kedua Nalidicix acid merupakan antibiotika golongan kuinolom yang bekerja dengan cara menghambat enzim DNA girase bakteri dan biasanya bersifat bakterisid terhadap kebanyakan kuman penyebab infeksi saluran kemih. Ketiga adalah Amphicilin yang merupakan antibiotika yang termasuk dalam golongan penisilin. Obat lain yang termasuk dalam golongan ini salah satunya adalah Amoxylin. Amphicilin tidak membunuh bakteri secara langsung, tetapi dengan cara mencegah bakteri membentuk semacam lapisan kapsul yang melekat di sekujur tubuh yang berfungsi untuk melindungi bakteri dari perubahan lingkungan dan menjaga tubuh bakteri agar tidak tercerai berai. Bakteri tidak akan bisa hidup tanpa adanya lapisan kapsul ini.


c.         Albothyl (antiseptik)
Menurut Dicckha (2012:9), antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan miroorganisme pada jaringan hidup. Sedangkan disinfektak digunakan pada benda mati. Disinfektan dapat pula digunakan sebgai antiseptik atau sebaliknya tergantung toksisitasnya. Beberapa antiseptik merupakan germisida, yaitu mampu membunuh mikroba dan ada pula yang hanya mencegah atau menunda pertumbuhan mikroba tersebut. Antiseptik dapat digunakan untuk:
1)        Disinfeksi tangan: menjadi pengganti atau menyempurnakan membasuh tangan dengan air. Tenaga medis dan paramedis harus melakukan disinfeksi tangan dengan antiseptik sebelum dan sesudah melakukan tindakan medis.
2)        Disinfeksi pra-tindakan: antiseptik diterapkan ke lokasi tindakan untuk mengurangi flora kulit.
3)        Disinfeksi membran mukosa: irigasi antiseptik dapat ditanamkan ke dalam uretra, kandung kemih atau vagina untuk mengobati infeksi atau membersihkan rongga sebelum kateterisasi.
4)        Disinfeksi mulut dan tenggorokan: Obat kumur antiseptik dapat digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi mulut dan tenggorokan.


3.      Zona Hambat
Zona hambat adalah zona bening yang terbentuk disekitar lubang yang menunjukkan bakteri tidak dapat tumbuh di sekitar lubang tempat pemberian filtrate. Zona bening yang terbentuk disekeliling lubang tersebut diukur dengan menggunakan jangka sorong. Zona hambat yang terkecil menunjukkan aktifitas antibakteri yang terendah, sedangkan zona hambat yang terbesar menunjukkan aktifitas antibakteri yang semakin besar (Anonim,2007:1).
Gambar 3 Zona Hambat
(Sumber: Wiki, 2011:1)
Gambar diatas adalah contoh zona hambat yang terbentuk. Zona hambat yang terbentuk berbeda-beda satu sama lain. Hal ini terjadi karena perbedaan aktifitas antibakteri terhadap bakteri yang telah diinokulasikan bersama media.
Uji sensitivitas bakteri merupakan cara untuk mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah.
E.     PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.      WAKTU DAN TEMPAT
1)      Waktu      : 1) Praktikum : Kamis, 24 Oktober 2013 jam 13.00-14.00
2)   Pengamatan : Jumat, 25 Oktober 2013 jam 13.00-13.30
2)      Tempat     : Laboratorium Biologi Program Studi Pend. Biologi FKIP
Universitas Muhammadiyah Palembang
2.      ALAT DAN BAHAN
a.       Alat          : Cawan petri, tabung reaksi, pinset, Bunsen, rak tabung rak
                 tabung reaksi, jarum ose, sprayer, autoclave, inkubator,
                 jangka sorong, penggaris, kertas label, penggaris, beaker
                 glass
b.      Bahan       :Media agar Nutrien Agar (NA), biakan bakteri Salmonella
typhosa, kapas, alcohol 96%, spritus, tissue, paper dish diameter 6mm, alcohol 70%, pemutih pakaian (bayclean), betadine, uang logam, antibiotik amoxylin 500mg, sabun cair detol/lifebuoy, detol cair, wifol, antiseptic tangan cair/gel, sunlight antibakteri, albotil, molto antibakteri, kapas lidi steril, kertas HVS.
3.      CARA KERJA
a.       Mengamati pengaruh antimikroba dari uang logam (daya oligodinamik)
1)      Inokulasi bakteri ke media NA dalam cawan petri secara aseptis
2)      Uang logam dicuci bersih, ukur diameter uang logam, catat
3)      Uang logam dijepit dengan pinset dan dibakar di atas api Bunsen selama beberapa detik, biarkan sesaat kemudian letakkan secara aseptis diatas media NA yang sudah diinokulasi bakteri
4)      Bungkus cawan petri secara terbalik (MENGAPA?) dengan kertas putih, kemudian inkubasi selama 24-48 jam dalam inkubator pada suhu 37°C
5)      Setelah inkubasi, ukur zona hambat yang terbentuk dengan jangka sorong/penggaris.
6)      Rumus Luas Zona Sensitifitas = Luas zona hambat – Luas uang logam
b.      Mengamati pengaruh bahan kimia dan antibiotik
1)      Inokulasi bakteri ke media NA dalam cawan petri secara aseptis
2)      Uang logam dicuci bersih, ukur diameter uang logam, catat
3)      Uang logam dijepit dengan pinset dan dibakar di atas api Bunsen selama beberapa detik, biarkan sesaat kemudian letakkan secara aseptis diatas media NA yang sudah diinokulasi bakteri
4)      Bungkus cawan petri secara terbalik (MENGAPA?) dengan kertas putih, kemudian inkubasi selama 24-48 jam dalam inkubator pada suhu 37°C
5)      Setelah inkubasi, ukur zona hambat yang terbentuk dengan jangka sorong/penggaris.
6)      Rumus Luas Zona Sensitifitas = Luas zona hambat – Luas uang logam
Mengapa cawan petri harus dibalik?
Karena untuk menghindari terjadinya tetesan air dari respirasi mikroba atau agar uap air yang terkondensasi pada tutup cawan petri tidak menetes di media NA, sehingga mikroba yang tumbuh sesuai seperti yang diharapkan dan apabila tidak dibalikkan maka kemungkinan besar ketika kita mengangkat, maka cawan petri tersebut akan terbuka sehingga menyebabkan terjadinya kontaminasi.











  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
1.      HASIL PRAKTIKUM
Copy of IMG02358-20131025-1153
Gambar 4 Zona Hambat yang Terbentuk
Tabel 1  Pengaruh antimikroba dari uang logam, bahan kimia, dan antibiotik terhadap adanya zona hambat pada bakteri Salmonella typhosa
No.          Perlakuan                                              L.Zona Hambat     L.Zona sensitifitas
1              Uang logam yang sudah dibakar               -                                     -
diatas api bunsen diletakkan
diatas media NA yang telah
diinokulasi bakteri Salmonella
 typhosa
2              Paper dish yang sudah direndam          1,258 cm                   0,9754 cm
antibiotik diletakkan diatas media
NA yang telah diinokulasi bakteri
Salmonella typhosa
3              Paper dish yang sudah direndam          5,72265 cm              5,44 cm
albotil diletakkan                diatas media NA
yang telah diinokulasi bakteri
Salmonella typhosa
2.      PEMBAHASAN
Nutrien Agar (NA) merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk pengendalian mikroorganisme dalam kultur murni. Media ini berbentuk padat yang diguanakan untuk mengetahui zona hambat sehingga diketahui bentuk, diameter, warna koloni bakteri, serta perubahan medium sebelum dilakukan uji lanjutan.
1)   Pengaruh antimikroba dari uang logam (daya oligodinamik) terhadap pembentukan zona hambat pada biakan bakteri Salmonella typhosa
Pada perlakuan pertama praktikum, digunakan uang logam yang telah dipanaskan kemudian diletakkan di atas cawan petri yang berisi media Nutrien Agar (NA) yang telah diinokulasi bakteri Salmonella typhosa dan bungkus cawan petri secara terbalik dengan kertas putih dan diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C. Menurut Harun (2009:19), cawan petri dibungkus dengan terbalik agar uap air yang terkondensasi pada tutup cawan tidak menetes pada media Nutrien Agara (NA). Dari hasil pengamatan pada perlakuan pertama ini dapat dilihat di sekitar keliling uang logam tidak terbentuk zona hambat. Disekitar uang logam tersebut masih ditumbuhi bakteri. Meskipun logam memiliki daya oligodinamik atau daya hambat yang berasal dari logam berat yang dapat mematikan mikroorganisme, namun daya hambat ataupun daya mematikan hanya dengan konsentrasi yang rendah.  Menurut Anonim (2011:2), logam-logam berat seperti Hg, Cu, Ag dan Pb bersifat racun terhadap sel meskipun hanya dalam kadar rendah. Logam mengalami ionisasi dan ion-ion tersebut bereaksi dengan bagian sulfihidril pada protein sel sehingga menyebabkan denaturasi. Daya hambat atau mematikan dari logam dengan konsentrasi yang rendah disebut daya oligodinamik.


2)      Pengaruh antibiotik (amoxylin) terhadap pembentukan zona hambat pada biakan bakteri Salmonella typhosa
Pada perlakuan kedua praktikum ini digunakan antibiotik (amoxylin). Dimana paper dish yang berdiameter 6 mm direndam dengan amoxylin yang telah dilarutkan kemudian diletakkan diatas cawan petri yang berisi media NA yang telah diinokulasi bakteri Salmonella typhosa kemudian membungkus cawan petrinya dengan cara terbalik agar uap air yang terkondensasi pada tutup cawan petri tidak menetes di media NA (Harun, 2009:19).  Kemudian letakkan cawan petri yang berisi media NA yang telah diinokulasi bakteri Salmonella typhosa ke dalam inkubator dengan suhu 37°C selama 24 jam. Setelah diinkubasi, terlihat jelas bakteri yang tumbuh di cawan petri tersebut, namun di sekitar paper dish yang telah direndam antibiotik amoxylin terbentuk zona hambat, dimana disekitar paper dish tersebut tidak ditumbuhi bakteri. Luas zona hambat yang terbentuk adalah 1,26 cm sedangkan luas zona sensitifitas yang terbentuk adalah 0,9774 cm. Ini menandakan bahwa antibiotik amoxylin dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhosa dan menandakan bahwa bakteri ini sensitif terhadap bahan antimikroba, serta amoxylin memiliki daya kerja antimikroba yang rendah karena zona hambat yang terbentuk lebih kecil dibanding zona hambat pada antimokroba lain (albthyl). Menurut Anonim (2007:1), zona hambat yang terkecil menunjuk- kan aktifitas antibakteri yang terendah, sedangkan zona hambat yang terbesar menunjukkan aktifitas antibakteri yang semakin besar.. Menurut Anonim (2013:4), bakteri yang sensitif terhadap bahan antimikroba akan ditandai dengan adanya daerah hambatan di sekitar cakram, sedangkan bakteri yang resisten terlihat tetap tumbuh pada tepi kertas cakram tersebut.
3)        Pengaruh albothyl terhadap terhadap pembentukan zona hambat pada biakan bakteri Salmonella typhosa
Pada perlakuan terakhir adalah menggunakan albothyl sebagai bahan antimikroba. Dimana paper dish yang berdiameter 6mm direndam dalam larutan albothyl kemudian diletakkan diatas cawan petri yang berisi media NA yang telah diinokulasi bakteri Salmonella typhosa dan cawan petri tersebut  dibungkus secara terbalik dengan kertas putih agar uap air yang terkondensasi pada tutup cawan petri tidak menetes pada media agar. Lalu cawan petri dimasukkan ke dalam inkubator untuk diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C. Setelah 24 jam terlihat secara kasap mata mikroorganisme yang tumbuh pada cawan petri tersebut yang disebut koloni. Namun di sekitar paper dish yang telah direndam albothyl tidak ditumbuhi bakteri atau terbentuk zona hambat disekitar paper dish tersebut. Luas zona hambat yang terbentuk adalah 5,72265 cm dan luas zona sensitifitas yang terbentuk adalah 5,44005 cm. Ini menandakan bahwa Salmonella typhosa sensitif terhadap bahan antimikroba dan antibakteri (albothyl) yang digunakan memiliki aktifitas yang besar terhdap bakteri Salmonella typhosa yang telah diinokulasi pada media NA. Menurut Anonim (2013:4), bakteri yang sensitif terhadap bahan antimikroba akan ditandai dengan adanya daerah hambatan di sekitar cakram, sedangkan bakteri yang resisten terlihat tetap tumbuh pada tepi kertas cakram tersebut. Menurut Anonim (2007:1), zona hambat yang terkecil menunjukkan aktifitas antibakteri yang terendah, sedangkan zona hambat yang terbesar menunjukkan aktifitas antibakteri yang semakin besar.
G.    KESIMPULAN
1.         Salmonella typhosa termasuk bakteri yang sensitif terhadap adanya bahan kimia atau antimikroba
2.         Dalam meletakkan cawan petri harus dengan posisi terbalik karena untuk mencegah kondensasi yang terbentuk pada tutup cawan selama pembekuan dan jatuh mengenai permukaan media NA
3.         Pada saat menginokulasi bakteri pada media NA harus secara aseptis dan mulut cawan petri tidak boleh terbuka lebih dari satu menit.
4.         Semakin kecil zona hambat yang terbentuk maka semakin rendah kerja antibakteri dan semakin besar zona hambat yang terbentuk maka semakin tinggi kerja antibakteri.







DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010.Antibiotik.(Online).(http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/107/ jtptunimus-gdl-pututkunco-5305-2-bab2.pdf, diakses 26 Oktober 2013)
Anonim.2011.Daya Kerja Antimikroba dan Oligodinamik.(Online).(http:// wikisains.blogspot.com/2011/01/daya-kerja-antimikorba-dan-oligodinamik.html, diakses 26 Oktober 2013)
Anonim 2013.Desinfeksi dan Desinfektan.(Online).(http://sketsaistjourney. wordpress.com/2013/03/28/desinfeksi-dan-desinfektan/, diakses 28 Oktober 2013)
Beatty,Richard,dkk.2010.Volume4Mikroorganisme.Jakarta:Grolier Publishing Company.80 halaman
Dicckha.2012.Desinfektan dan Antiseptik.(Online).(http://dicckha.blogspot. com/2012/05/desinfektan-dan-antiseptik.html, diakses 28 Oktober 2013)
Harun.2009.Penggunaan Cawan Petri.(Online).(http://webcache.google usercontent.com/search?q=cache:WeigXu8zioJ:hetsaharun.files.wordpress.com/2009/12/lap-cawan-htng.doc+&cd=6&hl=id&ct=clnk, diakses 26 Oktober 2013)
Mothatha.2011.Salmonella typhosa.(Online).(http://mothatha.blogspot.com/ 2011/06/Bakteriologi.html, diakses 26 Oktober 2013)

Pelczar.M.J dan Chan.E.C.S.1988.Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 2.Jakarta:Universitas Indonesia.997 halaman

Stainer,R.Y,dkk.1986.Dunia Mikrobe 3.Jakarta:Bhratara Karya Aksara.290 halaman

Wiki.2011.Zona Hambat.(Online).(http://www.google.com/imgres?imgurl =http://mulyadiveterinary.files.wordpress.com/2011/07/81.jpg&imgrefurl=http://mulyadiveterinary.wordpress.com/2011/07/06/147/&h=257&w=369&sz=28&tbnid=LrG_ynXja9mOQM:&tbnh=90&tbnw=129&zoom=1&usg=___gzV1isYbqXduLxw9a7Dg3UgKjI=&docid=zuukuGgH2GPbNM&sa=X&ei=r_dwUpChFIP9rAfu9oHACA&ved=0CGcQ9QEwCA, diakses 30 Oktober 2013)